200 hari tanpa hujan, ini penjelasan BMKG

id hari tanpa hujan,awal musim hujan,prakiraan musim BMKG

200 hari tanpa hujan, ini penjelasan BMKG

Keramba jaring apung dibiarkan nelayan terbengkalai di dasar waduk, Senin (4/11/2019), karena tidak mendapat pasokan air dari Waduk Mulur, Sukoharjo, Jawa Tengah, yang airnya menyusut karena hujan lama tidak turun. ANTARA/MOHAMMAD AYUDHA

Jakarta (ANTARA) - Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Adi Ripaldi menjelaskan perihal beberapa daerah di Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur yang mengalami 200 hari tanpa hujan.

"Ada daerah yang 200 hari tidak hujan. Sampai akhir tahun baru hujan," kata Adi di sela konferensi pers di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta, Jumat.

Hingga pertengahan Novemver 2019, menurut dia, baru 16 persen wilayah Indonesia yang memasuki musim hujan.

Baca juga: Kekeringan masing berlangsung, 73 desa di Banyumas krisis air bersih

Ia mengatakan bahwa hujan tidak turun merata di semua wilayah karena bentang alam Indonesia sangat bervariasi memicu keragaman cuaca.

"Hujan belum merata karena topografinya, ada lembah puncak, daratan, dan sebagainya. Kondisi permukaan laut kita terlalu dingin sehingga tidak menguap membentuk awan, hujan hanya terjadi di spot-spot (titik-titik) tertentu saja," katanya.

Adi menjelaskan pula bahwa musim hujan 2019/2020 di wilayah DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Banten kebanyakan bermula akhir November dan awal Desember.

Sedangkan wilayah seperti Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan, menurut dia, umumnya baru memasuki musim penghujan pada awal sampai pertengahan Desember.

Baca juga: Krisis air bersih melanda 27 desa di Temanggung
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar