Dongkrak ekspor, BI sebut perlu ada nilai tambah

id BI, nilai tambah dongkrak ekspor

Dongkrak ekspor, BI sebut perlu ada nilai tambah

Kepala BI Kantor Perwakilan Surakarta Bambang Pramono (Foto: Aris Wasita)

Solo (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menyatakan perlu ada nilai tambah untuk mendongkrak ekspor komoditas Soloraya ke luar negeri.

"Ekspor kita masih kalah dengan impor karena selama ini yang diekspor sifatnya masih komoditas atau barang mentah. Ini yang perlu diperbaiki ke depan," kata Kepala BI Kantor Perwakilan (KPw) Surakarta Bambang Pramono di Solo, Selasa.

Menurut dia, ekspor komoditas tidak memberikan keuntungan secara maksimal. Oleh karena itu, dikatakannya, perlu ada peningkatan nilai tambah melalui industri kreatif agar nilai ekspor Indonesia makin baik untuk mengimbangi impor yang masih cukup deras.

"Kalau bicara komponen masih banyak impor. Sebetulnya impor tidak apa-apa asalkan itu diolah sehingga ada nilai tambah kemudian dijual lagi di luar negeri," katanya.

Ia mengatakan terkait hal itu sektor industri kreatif bisa dikembangkan, selain itu juga industri tekstil.

"Solo lebih besar kan tekstil, ditambah industri kreatif. Ini bisa dimodifikasi, mudah-mudahan di pasar internasional bisa laku. Untuk menambah nilai jual barang dibuat seolah-olah ada ceritanya, ada nilai tambahnya," katanya.

Baca juga: BI: Digitalisasi menjadi sumber ekonomi baru

Sementara itu, dikatakannya, saat ini BI Kantor Perwakilan Surakarta juga memiliki program untuk "assessment" atau analisa ke beberapa produk, mulai dari industri makanan, minuman, tekstil, dan otomotif.

"Dari 'assessment' ini kami bisa tahu mana yang harus jadi prioritas. Kalau dari prioritas itu ternyata menyebabkan neraca perdagangan kita tidak makin buruk, itu berarti bisa meningkatkan ekspor dalam jangka pendek karena kan kita butuh valasnya," katanya.

Sebelumnya, berdasarkan data dari BI, sejauh ini kondisi perekonomian Indonesia masih relatif baik di tengah kelesuan ekonomi global. Untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2019 sebesar 5,05 persen secara "year on year" atau tahunan.

"Angka ini tetap terjaga di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat," katanya.

Baca juga: BI: Tantangan Indonesia masih terkait ekonomi global

 
Pewarta :
Editor: Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar