Pelaku UMKM di Purbalingga diminta tingkatkan kreativitas

id samuel wattimena,usaha kecil dan menengah,go global,hari umkm

Pelaku UMKM di Purbalingga diminta tingkatkan kreativitas

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi menyerahkan cendera mata kepada Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Samuel Wattimena saat peringatan Hari UMKM Nasional Tahun 2019 di Kampung Duku, Desa Kembaran Wetan, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Senin (12/8/2019). (Foto: Dok. Humas Setda Purbalingga)

Purbalingga (ANTARA) - Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengharapkan pelaku usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, untuk tidak bosan belajar serta meningkatkan kualitas maupun kreativitas dalam berinovasi sehingga dapat mandiri dan berdaya saing.

"Dari data yang ada, di Purbalingga terdapat 123.000 UMKM yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 345.000 orang. Bahkan, produk UMKM Purbalingga sudah ada yang go internasional," katanya saat memberi sambutan dalam peringatan Hari UMKM Nasional Tahun 2019 di Kampung Duku, Desa Kembaran Wetan, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah, Senin.

Dia mencontohkan prestasi salah seorang pelaku UMKM asal Purbalingga, yakni Novi yang sempat menjadi wakil Indonesia dalam kegiatan tingkat internasional di London, Inggris.

Selain itu, kata dia, produk berupa abon yang dihasilkan Novi pun telah diekspor ke Inggris, Timur Tengah, dan Malaysia.

Lebih lanjut, Bupati mengatakan UMKM merupakan salah satu sektor perekonomian yang penting dalam ekonomi nasional.

"Bahkan UMKM merupakan sektor ekonomi yang paling kuat dan survive. Terbukti saat krisis moneter tahun 1997, hanya sektor UMKM yang tetap berdiri tegak di tengah badai krisis moneter dan saat ini, UMKM yang menjadi penyangga bagi perekonomian nasional," katanya.

Baca juga: Pemprov-MUI Jateng beri sertifikat halal produk UMKM

Sementara saat dialog bersama pelaku UMKM Purbalingga, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Samuel Wattimena mengharapkan pelaku UMKM tetap mengedepankan dan menjaga kualitas produk yang dihasilkan sektor tersebut.

"Cukup banyak pelaku UMKM berlindung dengan kata UKM. Berlindung dalam arti kalau produknya kurang baik, maka akan dikatakan 'ini kan UKM', kalau mereka berproduksi tidak menepati waktu alasannya karena UKM. Ini tidak boleh terjadi lagi," kata perancang busana kawakan itu.

Ia mengatakan jika UMKM ingin maju, harus punya standarisasi yang dibuat sesuai dengan kemampuan sendiri, misalnya dalam hal menentukan kapasitas produksi harus yakin terhadap ketersediaan bahan bakunya.

"Jangan sampai usaha kita kekurangan bahan baku. Hal ini dinilai sangat berbahaya, terlebih jika pemerintah sudah gencar mempromosikan produk UMKM di daerahnya. Saat datang pesanan dalam jumlah banyak, pelaku usaha tidak dapat memenuhi permintaan pasar," kata Samuel Wattimena.

Baca juga: Legislator: Jangan ada regulasi UMKM furnitur yang berbelit
Baca juga: UMKM Indonesia dinilai lemah di daya tawar
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar