Sekda Jateng minta sosialisasi manfaat dan fungsi mangrove diintensifkan

id tanaman bakau

Sekda Jateng minta sosialisasi manfaat dan fungsi mangrove diintensifkan

Nelayan menyusuri aliran Sungai Tungkal Ilir yang diapit deretan tanaman bakau/mangrove di Kuala Tungkal, Tanjungjabung Barat, Jambi, Senin (27/5/2019). Pemkab Tanjungjabung Barat menyiapkan anggaran sebesar Rp10 miliar pada 2019 untuk mengembangkan kawasan hutan bakau setempat menjadi tempat wisata baru dan sekaligus media kampanye dan edukasi lingkungan. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww.

Semarang (ANTARA) - Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono meminta agar sosialisasi mengenai manfaat dan fungsi tanaman bakau atau mangrove lebih dapat diintensifkan di tengah masyarakat.

"Masih banyak masyarakat menganggap sepele tanaman bakau karena tidak memahami manfaat dan fungsi bakau, kalau sudah terjadi tsunami seperti di Aceh mereka baru akan sadar pentingnya keberadaan hutan bakau," kata Sri Puryono di Semarang, Senin.
Sekda menyebutkan kawasan hutan bakau di Jateng tercatat seluas 56 ribu hektare dan tersebar di 13 kabupaten di wilayah pantai utara dan tiga kabupaten di pantai selatan Jateng.

Kendati demikian, dari total luas tersebut hanya hanya 22 persen yang kondisinya bagus, sedangkan sisanya menjadi pekerjaan rumah pemerintah, masyarakat, akademika dan pihak-pihak lainnya untuk bersama-sama memperbaiki kerusakan serta melestarikannya.

Menurut Sekda, jika keberadaan hutan bakau yang membentang di pesisir pantai utara Rembang hingga Brebes, serta pantai selatan meliputi Cilacap, Purworejo, dan Kebumen, dapat dikelola dengan baik akan memberikan fungsi ekologi, ekonomi, serta sosial.
"Fungsi ekologi mencakup pelindung garis pantai dari abrasi dan mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan, mencegah intrusi air laut ke daratan, bahkan bakau bisa bernilai ekonomis dengan memanfaatkan menjadi aneka produk makanan dan keperluan rumah tangga," ujarnya.
Mantan Kepala Dinas Kehutanan Jateng itu berpendapat, banyak potensi yang bisa dikembangkan dari hutan bakau diantaranya, sektor ekowisata, energi baru terbarukan, teknologi informasi, juga konservasi hutan bakau sebagai pengendalian vektor dalam upaya pencegahan malaria di wilayah pesisir.
Sekda mencontohkan hutan bakau di kawasan Mangunharjo, Kota Semarang, dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata yang menarik dan edukatif. Untuk pengembangan ekowisata berbasis sumber daya tanaman bakau tersebut, pemerintah dapat menggandeng akademisi maupun lulusan perguruan tinggi.
"Tidak kalah penting adalah keterlibatan dan partisipasi masyarakat kawasan hutan bakau," katanya.
Pemprov Jateng mendukung upaya berbagai pihak dalam melakukan program restorasi kawasan pesisir di beberapa daerah dapat memberikan dampak positif pada upaya penyelamatan kawasan pesisir, khususnya ekosistem bakau.

Baca juga: Wisata hutan mangrove Brebes harus digarap serius

Baca juga: Duta Wisata Pati tanam mangrove di pantai
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar