Ini deretan fakta di balik pesta juara Brasil

id brasil,copa america

Ini deretan fakta di balik pesta juara Brasil

Para pemain tim nasional Brasil segera meninggalkan area bangku cadangan meluapkan kegembiraan menjadi juara Copa America 2019 seusai peluit panjang tanda laga usai berbunyi dengan skor akhir 2-0 atas Peru dalam partai final di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (7/7/2019) setempat. (ANTARA/AFP/Raul Arboleda)

Jakarta (ANTARA) - Tim nasional Brasil baru saja menjuarai Copa America 2019 seusai menundukkan Peru dengan skor 3-1 dalam partai final di Maracana, Rio de Janeiro, Brasil, Senin dini hari WIB.

Gol pembuka Everton Soares untuk Brasil sempat disamakan eksekusi penalti oleh Paolo Guerrero namun tuan rumah kembali unggul lewat Gabriel Jesus dan akhirnya memungkasi kemenangan lewat sepakan titik putih Richarlison.

Bukan saja kemenangan itu memungkasi paceklik juara kompetisi tersebut bagi Brasil  yang sudah berlangsung 12 tahun lamanya, sejumlah fakta rekam jejak baru juga tercatat di Maracana berkat hasil pertandingan itu.

Berikut adalah beberapa fakta baru catatan CONMEBOL atas hasil final Copa America 2019:

Jago kandang

Sejak masih bernama Kejuaraan Amerika Selatan hingga format baru Copa America dipakai mulai 1975, Brasil lima kali menjadi tuan rumah penyelenggaraan turnamen. Lima kali pula Brasil berhasil menjadi juara di tanah sendiri yakni pada 1919, 1922, 1949, 1989 dan 2019.

Juru taktik ahli Amerika Selatan

Keberhasilan Tite membawa Brasil juara Copa America 2019, membuatnya jadi pelatih pertama yang berhasil meraih tiga trofi bergengsi CONMEBOL di level timnas dan klub. Tite sebelumnya membawa klub Brasil Internacional menjuarai Copa Sudamericana (jika di Eropa setara Liga Europa) pada 2008 dan empat tahun kemudian memenangi Copa Libertadores (setara Liga Champions) bersama klub Brasil lainnya, Corinthians.

Pahlawan (terancam) pecundang

Penyerang Brasil Gabriel Jesus menjadi pemain pertama yang mencetak gol dan kemudian diusir dari lapangan dalam sebuah pertandingan final Copa America. Jesus juga mengirimkan assist untuk gol pembuka Everton Soares, membuatnya membukukan hattrick unik di final.

Penyerang Manchester City itu membawa Brasil unggul 2-1 jelang turun minum dan mungkin akan mengutuki dirinya jika setelah ia menerima kartu kuning kedua dan diusir wasit pada menit ke-70 keunggulan timnya terkubur dan Selecao menelan kekalahan. Untungnya Brasil justru menambah keunggulan dan memastikan kemenangan lewat penali Richarlison.

Ternodanya kesucian Alisson Becker

Kiper Brasil Alisson Becker akhirnya harus rela gawangnya kemasukan gol oleh lawan setelah melewati lima pertandingan sejak fase grup tanpa kebobolan. Gol penalti Guerrero sekaligus menandai berakhirnya periode 889 menit kesucian gawang Alisson, yang terakhir kali kemasukan bola pada 4 Mei 2019 oleh penyerang Newcastle United Salomon Rondon dalam laga lanjutan Liga Inggris membela klubnya Liverpool.

Pun demikian, catatan nyaris sempurna Alisson di Copa America mengantarkannya memenangi Sarung Tangan Emas ketiganya musim ini setelah meraih trofi serupa di Liga Inggris dan Liga Champions.

Berakhirnya tradisi tos-tosan

Dua final edisi 2015 dan 2016 selalu mempertemukan dua tim yang sama Chile dan Argentina, namun keduanya selalu gagal mencetak gol dalam waktu normal dan Chile selalu menjadi pemenang lewat adu penalti membuat Argentina (dan tentunya Lionel Messi) kian khusyuk menjalani puasa gelar.

Dalam final Brasil kontra Peru kali ini, hanya butuh waktu 15 menit sepak mula bagi Everton mencetak gol tanpa harus menunggu aba-aba wasit melakukan eksekusi dari titik putih. Namun, gol Everton itu berjarak 255 menit jauhnya dari gol penyerang ikonik Uruguay Diego Forlan pada menit ke-90 ke gawang Paraguay untuk melengkapi kemenangan 3-0 dalam partai final edisi 2011.

Pelipur lara Paolo Guerrero

Guerrero mungkin berharap gol yang dicetaknya pada menit ke-44 bisa mempertahankan kedudukan imbang lebih dari empat menit. Namun gol itu mengantarkannya jadi pemain aktif dengan koleksi gol terbanyak di Copa America 2019, berupa 14 gol.

Gol itu membuatnya berada dalam lima besar top skor Copa America sepanjang masa. Secara jumlah ia urutan ketiga, namun secara perorangan ia kelima di bawah nama-nama legendaris, yakni Zizinho (Brasil) dan Norberto "Tucho" Mendez (Argentina) yang punya koleksi 17 gol serta Teodoro Fernandez (Peru) dan Severino Varela (Uruguay) dengan torehan 15 gol.

Guerrero saat ini sudah berusia 35 tahun, dan bakal berusia 36 tahun ketika Copa America kembali digelar di Argentina dan Kolombia pada musim panas 2020 --demi menyamakan dengan kalender penyelenggaraan Piala Eropa--, namun bukan tak mungkin ia bakal kembali dipercaya menempati ujung tombak Las Incas lagi jika menilik kualitas ketajamannya.

Virus supersub final menjangkit Richarlison

Richarlison sempat dipaksa absen dari laga perempat final dan semifinal akibat menderita virus penyakit gondok, namun dinyatakan cukup bugar untuk tampil di final dan masuk lapangan menggantikan Roberto Firmino pada menit ke-75.

Pemain berusia 22 tahun itu akhirnya malah terjangkit virus supersub alias pemain pengganti yang berperan langsung mengubah hasil pertandingan. Tepat pada menit ke-90 dan tentunya dengan kebaikan hati Everton yang sukarela memberikan kesempatan mengeksekusi tendangan penalti, Richarlison memastikan kemenangan 3-1 Brasil lewat golnya.

Ia jadi pemain kelima yang masuk sebagai pengganti di laga final dan mencetak gol setelah Paolo Bengoechea untuk Uruguay pada final 1995 melawan Brasil, Ze Roberto (Brasil vs Bolivia, 1997), Cesar Delgado (Argentina vs Brasil, 2004) dan Dani Alves (Brasil vs Argentina, 2007).

Baca juga: Dani Alves jadi pesepak bola dengan trofi terbanyak dalam sejarah

Baca juga: Daftar juara Copa America, Brasil kini koleksi sembilan trofi

Baca juga: Brasil atasi Peru 3-1, tuntaskan dahaga juara 12 tahun


 

Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar