Bupati Tamzil dorong lulusan SMK berwirausaha

id lulusan smk kudus, didorong, berwirausaha

Bupati Tamzil dorong lulusan SMK berwirausaha

Bupati Kudus Muhammad Tamzil menyaksikan siswi SMK NU Banat Kudus memperagakan pembuatan desain busana, Senin (24/6). (ANTARA/Istimewa)

setidaknya satu grup mempunyai modal usaha Rp100 juta. Lulusan SMK NU Banat tidak boleh hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga harus berwirausaha
Kudus (ANTARA) - Bupati Kudus Muhammad Tamzil mendorong lulusan SMK untuk berwirausaha menyusul keberhasilan rancangan busana hasil karya lulusan sekolah kejuruan di wilayahnya, yang diakui dunia dengan tampil dalam peragaan busana Indonesian Fashion Chamber (IFC) di Prancis.

"Untuk mendorong lulusan SMK berwirausaha, Pemkab Kudus siap memfasilitasi lulusan SMK untuk mendapatkan pelatihan wirausaha," ujarnya saat menyaksikan pertunjukan busana rancangan murid SMK NU Banat Kudus, Senin.

Ia mengungkapkan kesiapan memfasilitasi 20 lulusan SMK NU Banat yang berminat mengikuti pelatihan wirausaha yang diselenggarakan oleh Pemkab Kudus pada 2020.

Nantinya, kata dia, para lulusan SMK NU Banat akan mendapatkan pelatihan selama 10 hari.

Materi pelatihannya, mulai dari manjemen wirausaha hingga pemasaran, kemudian akan diberikan bantuan permodalan Rp10 juta per orang.

"Jika satu klaster diiisi 10 orang, setidaknya satu grup mempunyai modal usaha Rp100 juta. Lulusan SMK NU Banat tidak boleh hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga harus berwirausaha," ujarnya.

Baca juga: SMK NU SIAP CETAK TENAGA AHLI PENGELASAN BERSERTIFIKASI

Lulusan SMK NU Banat yang mendapatkan kesempatan mengikuti pameran di Prancis pada 1 Desember 2018, yakni Farah Aurellia Majid dan Fitria Noor Aisyah merupakan jurusan fashion designer SMK NU Banat.

Farah Aurellia Majid didampingi Fitria Noor Aisyah mengaku tidak menyangka karyanya dapat ditampilkan dalam fashion show IFC dan berangkat ke Prancis.

Untuk menuju Prancis, katanya, harus bersaing dengan siswa lainnya dengan menunjukkan hasil rancangan busananya.

Persiapan yang dilakukan, katanya, hampir tiga bulan untuk menyiapkan 30 baju sekaligus persiapan administrasi.

Rancangan baju mereka, katanya, terinspirasi dari kain troso asal Jepara kain tenun khas Jawa Tengah yang selama ini kalah popular dengan kain tenun khas Sumba.

Ia menilai kualitasnya juga tidak kalah dengan tenun Sumba.

Baca juga: SMK Maarif NU Pecalungan Belajar Bea Cukai
 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar