Mudik lewat jalur pantura Kudus bisa sambil berwisata dan kuliner (VIDEO)

id mudik lewat, jalur pantura, bisa sambil, berwisata dan kuliner

Mudik lewat jalur pantura Kudus bisa sambil berwisata dan kuliner (VIDEO)

Pengunjung memotret kedua anaknya di dekat patung pembuatan jenang khas Kudus di Museum Jenang Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Minggu (19/5). (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Jika hari biasa hanya masak dua kali, maka menjelang Lebaran saat ramai pemudik bisa meningkat menjadi empat kali masakan
Kudus (ANTARA) - Jalur pantai utara Kudus, Jawa Tengah, yang menjadi perlintasan utama pemudik dari arah Surabaya maupun Jakarta, diprediksi mengalami lonjakan arus lalu lintas saat mendekati Lebaran 2019 sehingga menuntut pemudik ekstra hati-hati selama berkendara.

Untuk menghilangkan kepenatan selama perjalanan mudik dari Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya ketika memasuki jalur pantura Kudus, sebaiknya pemudik menyempatkan diri mencari tempat istirahat sambil berwisata edukasi atau kuliner di Kota Kudus.

Jika sampai di Gerbang Kudus Kota Kretek atau Jembatan Tanggulangin bagi pemudik dari Jakarta, maka arahkan kendaraan tetap lurus hingga jarak 5,2 kilometer. Setelah melewati Alun-Alun Kudus arahkan kendaraan menuju Jalan Sunan Kudus kemudian di sisi kiri jalan terdapat Museum Jenang Mubarok.

Bagi pemudik dari arah Surabaya menuju Jakarta, maka ketika sampai pertigaan Ngembalrejo tetap lurus menuju Kota Kudus. Ketika sampai di persimpangan Pentol bisa belok ke kanan kemudian lurus menuju Jalan Sunan Kudus dengan jarak sekitar 4,5 kilometer akan menemukan Museum Jenang Mubarok di sisi kanan jalan.

Di Museum Jenang Kudus, pengunjung akan merasakan hawa sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan. Di tempat ini bisa dilihat sejumlah koleksi peralatan pendukung untuk membuat jenang dari yang tradisional hingga modern serta miniatur Menara Kudus.

Pemudik juga bisa memanjakan mata dengan melihat diorama Pasar Bubrah, rumah adat Kudus, hingga foto-foto sejarah Kota Kudus, serta koleksi lainnya.

Di lokasi yang sama juga tersaji aneka puisi tokoh terkenal serta aneka kerajinan Kota Kudus mulai dari batik, ukir hingga menggiling rokok yang dikemas dalam satu kompleks bernama Gusjigang X-Building .

Museum Jenang Kudus tidak hanya menjadi tempat rekreasi, melainkan bisa menjadi tempat berbuka puasa karena tersedia kafe yang menyajikan menu makanan cepat saji.

Aneka makanan ringan juga tersaji, mulai dari kentang goreng, hamburger, siomay, hingga jenang pukis yang merupakan produk baru dari Mubarokfood sebagai produsen jenang khas Kudus.

"Khusus menyambut pemudik luar kota yang ingin transit ke Kota Kudus untuk membeli oleh-oleh khas Kudus, kami menambah jam operasional dari semula pukul 08.00 hingga 21.00 WIB baru tutup, maka khusus momen ini ditambah satu jam menjadi pukul 22.00 WIB tutupnya," kata Manajer Marketing Mubarok Food, Muhammad Kirom di Kudus, Minggu.

Dalam rangka melayani lonjakan pemudik yang berbelanja oleh-oleh khas Kudus di gerai Mubarok, maka jumlah personel pelayanan juga ditambah untuk memberikan kenyamanan pengunjung.

Bagi pengunjung yang ingin berbuka puasa, tersedia kafe yang juga menyajikan pemandangan Kota Kudus maupun lalu lalang kendaraan dari lantai dua.

Menu makanan yang disajikan di kafe tersebut, sengaja diubah demi menyambut pemudik dari semula hanya kopi muria, kini ditambah aneka minuman hangat dan dingin, soto hingga makanan cepat saji seperti hamburger, siomay dan kentang goreng.

Ia menilai kafe tersebut memang cocok dijadikan tempat istirahat, sementara para pemudik, termasuk ketika hendak menunaikan shalatm juga tersedia mushala yang cukup bersih.

Mayoritas pengunjung menjelang Lebaran, katanya, merupakan warga luar Kudus yang memang hendak mudik ke kampung halamannya dengan membawa oleh-oleh khas Kudus untuk dibagikan kepada sanak saudaranya.

Hafid, salah seorang pengunjung Museum Jenang Kudus, mengakui sengaja membeli oleh-oleh jenang Kudus untuk dibagikan kepada sanak familinya sebelum mudik ke Jakarta, Minggu (19/5).

Ia sengaja mudik dari tempat kerjanya di Kabupaten Pati ke Jakarta lebih awal untuk menghindari kemacetan.

Adanya fasilitas museum, kafe dan tempat belanja makanan khas Kudus dan aneka makanan tradisional lainnya cukup membuat pemudik nyaman sehingga bisa sejenak melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan.

Musthofa pemudik asal Jakarta yang kebetulan juga mengunjungi Museum Jenang mengakui tempatnya representatif karena selain ada wisata edukasi dan belanja, juga dilengkapi dengan tempat peribadatan sehingga nyaman untuk pemudik yang hendak beristirahat sejenak.

Dua anaknya yang ikut berkunjung, kata dia, menjadi paham soal sejarah jenang Kudus serta bisa menikmati sejumlah koleksi, seperti miniatur menara Kudus serta rumah adat tanpa harus menuju ke objek wisata sesungguhnya karena membutuhkan waktu yang lama.

 Sentra Kuliner

Jika belum puas setelah berkunjung ke Museum Jenang, pemudik yang ingin mencicipi menu masakan khas Kudus bisa mengunjungi Taman Bojana yang jaraknya dari museum hanya sekitar 600 meteran menuju arah Alun-alun Kudus.

Lokasinya yang berada di pojok Alun-Alun Kudus, cukup strategis bagi pengunjung luar kota yang ingin mencicipi aneka masakan khas Kudus, mulai dari soto, nasi pindang, lontong tahu, hingga garang asem.

Salah satu penjual nasi pindang dan soto terkenal bagi pemudik luar kota, yakni warung makan Haji Sulichan yang berada di bagian pojok kompleks Taman Bojana.

Musyafak, yang merupakan anak pertama Haji Sulichan, mengakui setiap menjelang Lebaran, Taman Bojana memang menjadi tempat transit warga luar kota yang hendak mudik ke kampung halamannya untuk mencicipi makanan khas Kudus.

Untuk itu, warung makan yang selalu ramai pengunjung itu sejak awal sudah mempersiapkan bahan baku dalam jumlah banyak demi melayani pemudik yang biasanya singgah ke Taman Bojana untuk berburu kuliner khas Kudus.

"Jika hari biasa hanya masak dua kali, maka menjelang Lebaran saat ramai pemudik bisa meningkat menjadi empat kali masakan," ujarnya.

Upaya tersebut dilakukan karena harus mempersiapkan stok bahan baku untuk membuat nasi pindang maupun soto sejak awal, dengan harapan kualitas masakannya tetap terjaga dan harga jual baku juga tidak mengalami lonjakan yang signifikan.

Cita rasa masakannya tetap terjaga, salah satunya karena takaran bumbu tetap dan ayam yang digunakan merupakan ayam kampung serta dalam memasak masih mempertahankan bahan bakar kayu serta dandang untuk memasak yang terbuat dari tanah liat.

Untuk penghangatnya, menggunakan kayu arang sehingga penikmat kuliner akan merasakan kelezatan soto maupun nasi pindang buatannya.

Menu yang disediakan, mulai dari soto ayam, soto kerbau, nasi pindang ayam dan nasi pindang kerbau dengan harga yang sama untuk satu porsi cukup Rp15.000.

Demi melayani pembeli yang datang silih berganti saat mudik Lebaran nanti, maka karyawannya dibagi menjadi tiga sif jaga mulai dari pagi, siang, hingga malam.

Pemudik yang ingin menikmati menu masakan khas Kudus yang lain, tersedia warung makan di kompleks yang sama mulai dari lontong tahu hingga garang asem. Kuliner yang bukan khas Kudus juga tersedia karena terdapat banyak warung makan.

Jangan khawatir dengan persoalan tempat parkir, karena di kawasan Taman Bojana tersedia lahan parkir luas untuk menampung mobil pribadi maupun minibus.

Bagi pemudik yang hendak melanjutkan perjalanan juga tidak perlu khawatir karena akses jalan di Kota Kudus cukup mudah dan banyak rambu penunjuk jalan serta bisa memanfaatkan "google map" sebagai alternatif.

 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar