Tingkatkan kesadaran tentang TBC, Jateng libatkan PKK dan pramuka

id penyakit TBC

Tingkatkan kesadaran tentang TBC, Jateng libatkan PKK dan pramuka

Ilustrasi: paru-paru yang terkena penyakit menular TBC (ANTARA News/ Reuters)

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit tubercolosis (TBC) dengan melibatkan kader tim penggerak PKK dan anggota Pramuka yang tersebar di 35 kabupaten/kota.

"Salah satu penyebabnya karena latar belakang pengetahuan masyarakat yang minim tentang penyakit TBC sehingga kita butuh agen-agen, PKK dan Pramuka sangat tepat untuk diterjunkan dalam gerakan ini," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat dihubungi melalui telepon dari Semarang, Selasa.

Menurut Ganjar, kader PKK dan Pramuka bisa diandalkan untuk menekan laju penyakit TBC dan dengan cara tersebut, Jateng diharapkan bisa menjadi penyangga secara nasional dalam penurunan penyakit mematikan itu.

Saat ini di Provinsi Jateng tercatat 49.619 kasus TBC dan diperkirakan terdapat 143 kematian per 100 ribu penduduk akibat penyakit tersebut.

Penyakit TBC bahkan menjadi salah satu penyakit mematikan di dunia, sedangkan Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah negara India serta Tiongkok.

Penyakit TBC di Provinsi Jateng telah merenggut nyawa 301 orang setiap hari.

"Kita buru terus karena ini masalah yang sangat serius, makanya sejak 2013 sampai 2018 kita dorong terus melalui peraturan-peraturan. Untuk teknis, kita punya 67 alat tes TBC yang kita sebarkan di 35 kabupaten/kota," ujarnya.

Di sisi lain, kata Ganjar, tingkat keberhasilan pengobatannya mencapai 86 persen dan salah satu faktor keberhasilan pengobatan TBC adalah faktor pendampingan, tapi sebaliknya penyebab terbesar persebaran penyakit ini adalah karena minimnya pengetahuan tentang TBC.

Ganjar menyebutkan yang menjadi kendala penyembuhan penyakit TBC saat ini adalah penderitanya menjadi kebal obat setelah yang bersangkutan mengalami kejenuhan mengonsumsi obat.

"Untuk mengatasinya dibutuhkan PMO (pendamping minum obat), terutama dari orang-orang terdekat. Karena seorang pasien TBC harus mengonsumsi 114 ribu butir obat selama 24 minggu atau enam bulan.

Jika tidak ada pendamping, penderita penyakit TBC cenderung lupa, malas atau frustasi.(LHP)
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar