Puan: Dana abadi kebudayaan minimal Rp5 triliun

id Puan, dana abadi

Puan: Dana abadi kebudayaan minimal Rp5 triliun

Puan Maharani saat mengisi kuliah umum di ISI Surakarta (Foto: Aris Wasita)

Solo (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani menyatakan dana abadi  kebudayaan yang disiapkan oleh pemerintah minimal sebesar Rp5 triliun.

"Saat ini saya minta agar dicek oleh Mendikbud. Harapannya bisa lebih dari itu, bisa sampai Rp50 triliun," katanya saat mengisi Kuliah Umum dengan tema "Inovasi Seni Menuju Indonesia Maju dan Berbudaya di Era Industri 4.0" di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Senin.

Ia mengatakan dana abadi kebudayaan ini untuk menjaga kearifan lokal dan kebudayaan yang ada di Indonesia. Meski demikian, untuk mekanisme pemanfaatannya tengah dalam pembahasan dengan Mendikbud.

Ia mengatakan program tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah terhadap perkembangan kebudayaan di dalam negeri.

"Dengan program ini diharapkan pula minat anak bangsa terhadap kebudayaan bisa tersalurkan," katanya.

Sementara itu, bentuk kepedulian lain pemerintah terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia adalah dalam waktu ini pemerintah berencana bisa membangun tempat kesenian sekelas "opera house" yang ada di Sidney. 

"Bayangkan kalau mahasiswa ISI bisa pentas di situ. Saya juga melihat dedikasi mahasiswa ISI terhadap kesenian dan kebudayaan Indonesia luar biasa," katanya.

Melihat dedikasi tersebut, ke depan pihaknya akan makin serius memberikan bantuan kepada ISI Surakarta agar makin berkembang.

"ISI harus dibantu agar lebih baik dari sekarang, salah satunya melalui bidik misi. Selain itu, mudah-mudahan dapat tambahan beasiswanya. Bagaimanapun juga keberadaan ISI sangat penting karena kalau tidak ada anak muda yang punya dedikasi budaya maka Indonesia pelan-pelan akan tergerus oleh modernisasi," katanya.

Di sisi lain, dikatakannya, kearifan lokal dan kebudayaan tidak boleh dihilangkan pakemnya.

"ISI ini punya tanggung jawab untuk memastikan itu. Gamelan Jawa ya Jawa, tidak boleh 'ngawur'," katanya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar