Akademisi: Penyelenggara pemilu perlu memanfaatkan internet secara kreatif

id edi santoso

Akademisi: Penyelenggara pemilu perlu memanfaatkan internet secara kreatif

Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Edi Santoso. (Foto: wury puspitasari)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman, Edi Santoso mengatakan penyelenggara pemilihan umum perlu memanfaatkan internet secara kreatif untuk mendorong partisipasi masyarakat.

"Internet yang kini menjadi ruang publik, terutama bagi kalangan milenial, menyediakan kesempatan bagi kreatifitas para pembuat konten, termasuk penyelenggara pemilu," kata Edi Santoso di Purwokerto, Selasa.

Edi yang merupakan dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman tersebut mengatakan, tingkat partisipasi warga menjadi indikator sukses atau tidaknya pelaksanaan pemilu.

"Partisipasi, tak hanya semata warga ikut memberikan suaranya saat hari pemungutan suara, tetapi juga keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pemilu," katanya.

Pesan di internet, kata dia, bagaikan lautan informasi, sehingga harus ada kreatifitas agar mendapat perhatian warganet.

"Juga, harus disesuaikan dengan karakter warganet. Misalnya, konten yang lucu, nyambung dengan suasana batin atau kondisi terkini, selalu ada tempat. Istilah anak sekarang, kekinian lah," katanya.

Dalam logika kontestasi, tambah dia, kreatifitas itu termasuk modal simbolik, yakni kemampuan mengartikulasikan pesan-pesan yang sesuai atau nyambung dengan sasaran.

"Ditambah dengan modal sosial, yakni jaringan sosial, misalnya di 'tweet' atau 'retweet', di 'share' atau 'reshare' oleh mereka yang pengikut atau pertemanannya banyak, maka akan berpotensi besar menjadi viral," katanya.

Penyelenggara pemilu, kata dia, memang harus memperhatikan ruang virtual tersebut, karena keberadaannya makin signifikan.

"Sudah banyak sekali penduduk Indonesia yang menggunakan internet. Dan sebagian besarnya menggunakan media sosial. Pemilih milenial sendiri, diprediksi lebih dari 30 persen, maka dengan cara apalagi sosialisasi yang efektif, kalau bukan dengan internet," katanya.

Internet dan media sosial yang interaktif, tambah dia, bisa dimanfaatkan untuk edukasi pemilu yang lebih bermutu.

"Ini sekaligus bisa menangkal fenomena disinformasi yang kian memprihatinkan di internet. Dan biar diterima warganet, sosialisasi ini harus unik dan menarik," katanya.

Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar