Debat capres perlu perbanyak materi pemberantasan korupsi

id debat

Debat capres perlu perbanyak materi pemberantasan korupsi

Pengamat Politik Universitas Jenderal Soedirman, Ahmad Sabiq (wuryanti puspitasari) (wuryanti puspitasari/)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Soedirman, Ahmad Sabiq mengatakan materi debat capres perlu memperbanyak materi mengenai upaya pemberantasan korupsi.  

"Selain soal ekonomi, materi mengenai upaya pemberantasan korupsi ini penting, harus diperbanyak," kata Ahmad Sabiq di Purwokerto, Kamis.  

Dia menjelaskan, materi debat bisa fokus pada strategi pemberantasan korupsi menurut masing-masing pasangan capres dan cawapres. 

"Misalnya, apa yang telah dilakukan petahana dalam rangka pemberantasan korupsi sebagaimana yang dulu dijanjikan dalam kampanye pilpres 2014," katanya.  

Selain itu, kata dia, mengenai permasalahan apa yang dihadapi dalam upaya pemberantasan korupsi lalu bagaimana strategi di masa mendatang.  

"Selain itu, apa strategi dari kubu kompetitor dalam upaya pemberantasan korupsi," katanya.  

Sementara itu, dia juga menambahkan, publik tentunya mengharapkan berlangsungnya debat yang menarik dan tidak monoton.  

"Meskipun demikian debat capres harus tetap fokus pada permasalahan-permasahan yang substantif," katanya.  

Dengan demikian, kata dia, masyarakat bisa melihat dan mengetahui apa perbedaan mendasar dari pandangan dua pasangan calon tersebut. ?"Debatnya harus tetap greget, jangan garing atau membosankan, harus menghibur, akan tetapi tidak meninggalkan esensi," katanya. ?Komisi Pemilihan Umum akan menyelenggarakan debat perdana pasangan calon presiden dan wakil presiden Pemilu 2019 yakni Joko Widodo dan Ma`ruf Amin, serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.  

Sejumlah panelis yang hadir dalam acara itu yakni Profesor Bagir Manan, Profesor Hikmahanto Juwana, Agus Rahardjo, Ahmad Taufan Damanik, Bivitri Susanti, dan Margarito Kamis.  

Acara debat itu disiarkan stasiun radio dan televisi nasional baik negeri maupun swasta. 


 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar