Bawang putih dobel kromosom hasilkan panen lebih banyak

id Bawang putih, dobel kromosom

Bawang putih dobel kromosom hasilkan panen lebih banyak

Ketua Kelompok Taruna Tani "Tani Maju" Bejo Supriyanto memperlihatkan benih bawang putih dobel kromosom di Kabupaten Karanganyar, Jumat (14/12). (Foto: Aris Wasita)

Karanganyar (Antaranews Jateng) - Sejumlah petani di Dukuh Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah sedang mengembangkan komoditas bawang putih dengan benih dobel kromosom yang hasil lebih tinggi dibandingkan dengan varietas yang dikembangkan sebelumnya.

"Sudah dua tahun ini, sejak menjadi klaster binaan Bank Indonesia kami dibantu oleh ahli dari Institut Pertanian Bogor, Profesor Sobir mulai mengembangkan benih dobel kromosom," kata Ketua Kelompok Taruna Tani "Tani Maju" Bejo Supriyanto di Karanganyar, Jumat.

Ia mengatakan di masa tanam pertama, dari 10 kg bibit yang ditanam, hasil panen hanya di kisaran 66 kg. Dari total tersebut, hasil panen dengan kualitas bagus hanya 6 kg.

"Sebanyak 6 kg dengan kualitas bagus tersebut kami tanam kembali dan bisa menghasilkan sebanyak 158 kg. Saat ini seluruhnya masih kami simpan dan pada bulan Mei tahun depan akan kami budidayakan agar menghasilkan lebih banyak bibit kualitas baik," katanya.

Ia mengatakan hasil dari bibit dobel kromosom tersebut dinamakan Bawang Putih Tawangmangu Super. Bawang putih jenis tersebut diharapkan bisa lebih baik dibandingkan Bawang Putih Tawangmangu Baru yang sudah dibudidayakan oleh petani setempat sejak tahun 1985.

Dari hasil percobaan benih dobel kromosom, pihaknya optimistis hasil produksi akan lebih tinggi. Sebagai perbandingan, dikatakannya, bibit Bawang Putih Tawangmangu Baru sebanyak 600 kg/hektar lahan menghasilkan panen sebanyak 18 ton bawang putih cabut basah.

"Sedangkan untuk benih bawang putih dobel kromosom sebanyak 600 kg/hektar lahan, perhitungan saya mampu menghasilkan panen minimal 20 ton Bawang Putih Tawangmangu Super," katanya.

Sementara itu, untuk kebutuhan pupuk per 1 hektar lahan membutuhkan sekitar 15-20 ton pupuk. Ia mengatakan konsumsi pupuk sebanyak itu untuk satu kali masa tanam.

"Kalau untuk jenis pupuknya kami menggunakan pupuk organik, jadi buatan sendiri karena di sini cukup mudah memperoleh limbah kotoran sapi, kuda, dan kambing," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar