Angka kematian ibu melahirkan di Boyolali mencapai 40 kasus

id Angka kematian ibu melahirkan di Boyolali maish tinggi

Angka kematian ibu melahirkan di Boyolali mencapai 40 kasus

Dinkes Boyolali sosialisasi kesehatan melalui pentas ketoprak di Gedung Balai Sidang Mahesa Dome Kabupaten Boyolali. (Foto: Bambang Dwi Marwoto)

Masyarakat desa akan mudah menerima komunikasi yang disampaikan tentang upaya penurunan angka kematian ibu melahirkan dan bayi
Boyolali (Antaranews Jateng) - Angka kematian ibu (AKI) melahirkan yang mencapai 40 kasus dan bayi lahir yang mencapai 15 kasus di Kabupaten Boyolali selama 2018 dinilai cukup tinggi, kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali dr. Ratri S. Survivalina.
     
"Angka kematian ibu sebelum 40 hari pascamelahirkan sudah mencapai 15 kasus tahun ini, sedangkan angka kematian bayi (AKB) lebih dari 30 kasus," katanya di Boyolali, Selasa.
    
Ia menyebut AKI selama 2017 hanya 14 kasus.
     
Ratri mengatakan ada dua faktor sebagai penyebab tingginya AKI dan AKB di Boyolali, yakni faktor ibu itu sendiri dan dari luar, seperti kondisi lingkungan, ekonomi, budaya, letak geografis, dan keluarga.
     
Faktor ibu sendiri, kata dia, antara lain terlalu tua atau terlalu muda saat hamil. Mereka terlalu sering hamil atau terlalu dekat jarak kehamilan, menjadi penyebab kematian ibu.
     
Oleh karena itu, pihaknya terus mengerahkan segala kemampuan untuk menekan AKI dan AKB.

Dinkes Boyolali  terus menggalakkan sosialisasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat, baik menggunakan iklan maupun spanduk-spanduk besar yang dipasang di pinggir jalan.

Ia menyebut pertunjukkan ketoprak menjadi cara baru dinkes setempat mengedukasi masyarakat agar lebih cepat menerima soal-soal terkait dengan menjaga kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

"Dialog dalam seni pertunjukkan itu, kami anggap bisa mengena langsung kepada masyarakat. Masyarakat desa akan mudah menerima komunikasi yang disampaikan tentang upaya penurunan angka kematian ibu melahirkan dan bayi," katanya.
     
Ia mengharapkan dengan sosialisasi melalui seni budaya tersebut, selain ikut melestarikan budaya lokal juga menumbuhkan kesadaran tentang arti pentingnya kesehatan bagi ibu hamil dan melahirkan.
     
"Kami juga ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat mengenai pola hidup bersih. Hal itu, untuk mencegah masyarakat dari terjangkitnya penyakit," katanya.



 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar