Tembus pasar luar Jawa, produk ATBM Batang terkendala pekerja

id kerajinan ATBM, Batang

Tembus pasar luar Jawa, produk ATBM Batang terkendala pekerja

Bupati Batang Wihaji sedang melihat proses produksi kerajinan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Cepagan , Kecamatan warungasem. Bupati mengaperasisi pada pengrajin yang tetap melestarikan produk tradisional ini ditengah persaingan bisnis yang ketat. (Foto Kutnadi)

Batang (Antaranews Jateng) - Produk kerajinan alat tenun bukan mesin (ATBM) Desa Cepagan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mampu menembus pasar luar Jawa seperti Bali dan Sulawesi.

Pengrajin ATBM di Batang, Kamis, mengatakan bahwa produk yang dihasilkan oleh pengrajin ATBM ini antara lain berupa sal, pasmina, dan kerudung.

"Para perajin ATBM ini mampu memproduksi 2.000 potong ATBM per minggu. Adapun pemasarannya, selain untuk memenuhi permintaan pasar di Pulau Jawa juga dipasarkan ke Bali dan Sulawesi," kata pengrajin ATBM Aidin (40).

Kendati demikian, kata dia, prospek usaha yang bisa dikatakan cukup menjanjikan ini kurang diminati oleh masyarakat terutama usia remaja karena mereka memilih bekerja di Jakarta maupun pada perusahaan swasta.

"Kendala yang kami hadapi dalam usaha ATBM ini bukan faktor bahan baku namun tenaga kerja. Usaha ATBM ini tidak bergantung pada bahan impor sehingga cukup menjanjikan," katanya.

Menurut dia, harga kerajinan ATBM relatif cukup terjangkau dibeli oleh masyarakat sebagai bingkisan atau oleh-oleh.?

"Kita mematok harga kerajinan ATBM hanya Rp15 ribu sampai Rp30 ribu tergantung jenisnya. Adapun omzet yang kami peroleh mampu mencapai Rp50 juta per bulan," katanya.

Bupati Batang Wihaji mengatakan wilayah Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem merupakan sentral indutri kreatif alat tenun bukan mesin yang dilakukan secara tradisional dan sudah berlangsung puluhan tahun.

"Di wilayah desa ini, hampir semua masyarakatnya memproduksi sal, pasmina, dan kerudung. Oleh karena, kami menobatkan desa ini sebagai `Kampung ATBM`," kata Wihaji saat mengunjungi sentra produksi ATBM di Desa Cepagan, Kamis.

Ia mengapresiasi pada warga setempat yang tetap berkarya memproduksi ATBM di tengah persaingan bisnis yang ketat dengan menggunakan alat teknologi.

"Ini ekonomi kreatif yang luar biasa, dalam produksinya dilakukan secara tradisional dan tetap bertahan di tengah modernisasi peralatan, Oleh karena, kami mengapresiasi masyarakat yang telah `nguri-nguri` (melestarikan) peninggalan nenek moyang," katanya. 
 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar