Terbongkar, peredaran narkoba dikendalikan napi Nusakambangan

id BNNK Cilacap

Terbongkar, peredaran narkoba dikendalikan napi Nusakambangan

Kepala BNNK Cilacap AKBP Triatmo Hamardiyono (dua dari kanan) saat menggelar konferensi pers di Kantor BNNK Cilacap, Rabu (7-11-2018), menunjukkan barang bukti yang disita dalam penangkapan seorang pengedar narkotika jenis sabu-sabu. (Foto: Dok. BNNK Cilacap)

Cilacap (Antaranews Jateng) - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, berhasil mengungkap kasus peredaran sabu-sabu yang diduga dikendalikan oleh narapidana salah satu lembaga pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan, kata Kepala BNNK Cilacap AKBP Triatmo Hamardiyono.

"Terungkapnya kasus ini berkat informasi dari masyarakat yang mencurigai adanya peredaran narkotika jenis sabu-sabu di Kelurahan Gumilir, Kecamatan Cilacap Utara," katanya saat menggelar konferensi pers pengungkapan kasus peredaran narkoba di Cilacap, Rabu.

Ia mengatakan informasi tersebut segera ditindaklanjuti petugas BNNK Cilacap dengan melakukan penyelidikan hingga akhirnya menangkap seorang pria yang dicurigai sebagai pengedar sabu-sabu.

Menurut dia, pria berinisial KPS alias Igor itu ditangkap di rumahnya, Jalan Bisma, Kelurahan Gumilir, Kecamatan Cilacap Utara, pada hari Senin (5/11).

"Saat dilakukan penggeledahan, ditemukan barang bukti berupa empat paket kecil berisi narkotika jenis sabu-sabu. Barang bukti tersebut selanjutnya disita untuk keperluan penyidikan," ungkapnya.

Selain empat paket kecil berisi sabu-sabu, kata dia, petugas juga menyita barang bukti lainnya berupa buku tabungan salah satu bank beserta kartu anjungan tunai mandirinya (ATM) dan dua unit telepon seluler yang biasa digunakan untuk bertransaksi.

Saat menjalani proses penyidikan, lanjut dia, tersangka KPS mengaku jika sabu-sabu tersebut berasal dari Tangerang melalui dua orang kurir, yakni S alias Mame, warga Jalan Langkap, Kelurahan Gumilir, dan R yang diketahui sebagai warga Kroya, Kabupaten Cilacap.

"Kedua kurir tersebut telah kami tetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang). Berkaitan dengan pengakuan tersangka bahwa barang tersebut diduga dikendalikan oleh narapidana salah satu lapas di Pulau Nusakambangan, kami masih melakukan pendalamaan dan koordinasi dengan pihak Lapas Nusakambangan," paparnya.

Triatmo mengatakan tersangka KPS bakal dijerat Pasal 114 ayat 1 dan Pasal 112 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman paling singkat lima tahun penjara dan paling lama 20 tahun penjara dengan denda minimal Rp1 miliar.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar