Sungai Prukut kembali keruh, warga kesulitan air (VIDEO)

id sungai prukut keruh

Sungai Prukut kembali keruh, warga kesulitan air (VIDEO)

Sejumlah ibu rumah tangga mengambil air di Sungai Prukut yang keruh akibat proyek pembangunan PLTPB Baturraden di lereng selatan Gunung Slamet, Kabupaten Banyumas, Selasa (6-11-2018). (Foto: Sumarwoto)

 Banyumas (Antaranews Jateng) - Warga Desa Panembangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengeluhkan kondisi air Sungai Prukut yang kembali keruh akibat pengeboran proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Gunung Slamet atau yang dikenal dengan PLTPB Baturraden.

"Airnya (kembali) keruh sejak empat hari terakhir. Sebelumnya sempat jernih tapi cuma beberapa hari," kata salah seorang warga Desa Panembangan RT 01 RW 02, Marhani saat mengambil air di Sungai Prukut, Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Selasa.

Bahkan, kata dia, kondisi air Sungai Prukut beberapa waktu sebelumnya lebih keruh jika dibandingkan dengan sekarang.

Padahal, kata dia, warga biasanya menggunakan air Sungai Prukut untuk mencuci pakaian, sehingga dapat mengurangi biaya langganan perusahaan daerah air minum (PDAM).

"Sekarang kalau mencuci pakai air PDAM, cukup mahal. Pendapatan saya tidak sebanding dengan pengeluaran," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan air Sungai Prukut menjadi keruh sejak adanya pengeboran sumur panas bumi yang dilakukan PT Sejahtera Alam Energy (SAE) di lereng selatan Gunung Slamet untuk keperluan PLTPB Baturraden.

Ia mengharapkan kondisi air Sungai Prukut dapat kembali seperti semula, sehingga bisa dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan.

"Dulu sebelum ada pengeboran, kalau air sungainya keruh akibat banjir pada malam hari, keesokan harinya jernih lagi, tetapi sekarang keruh terus-menerus," katanya.

Warga lainnya, Mugi mengatakan kondisi air Sungai Prukut yang keruh sudah berlangsung lebih dari satu tahun atau sejak adanya proyek PLTPB Baturraden.

"Sempat jernih, sebentar, sekarang kerung lagi, sejak empat hari terakhir. Akibatnya, kami tidak bisa mencuci atau melakukan kegiatan lainnya di Sungai Prukut," katanya.

Menurut dia, warga saat sekarang menggunakan air PDAM untuk keperluan mencuci meskipun biayanya mahal.

Dia mengharapkan adanya penanganan terhadap air Sungai Prukut agar airnya kembali jernih.
 

Salah seorang pemerhati lingkungan, Joko Budiarto mengatakan PT SAE selaku pelaksana proyek pembangunan PLTPB Baturraden seharusnya memproses air dari lokasi pengeboran sumur panas bumi sebelum dibuang ke sungai.

"Kalau melihat kondisi airnya, berarti tidak dilakukan `treatment` (proses penjernihan) sehingga menimbulkan kekeruhan di Sungai Prukut. Harusnya PT SAE melakukan `treatment`, apalagi terhadap air yang ada di atas gunung, di bawah saja kalau kita mengebor, airnya pasti keruh," katanya.

Menurut dia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus menegur PT SAE karena tidak mengantisipasi dampak air keruh yang merugikan masyarakat.

Sementara dalam keterangan tertulis Direktur PT SAE Bregas H. Rochadi mengatakan pihaknya saat ini tengah menelusuri penyebab utama keruhnya sejumlah sungai di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

"Keruhnya aliran sungai disebabkan oleh sisa sedimentasi dari kegiatan infrastrukur, bukan eksplorasi. Karena pengeboran itu, Alhamdulillah tidak ada efeknya sampai sekarang, lebih karena tanah pembukaan jalan, tanah dan material lain terbawa hingga tengah hutan atau aliran-aliran air," katanya.

Saat turun hujan deras, kata dia, sedimen itu kembali hanyut terbawa aliran sungai hingga ke wilayah permukiman penduduk di wilayah hilir dan menyebabkan air keruh.

Ia mengatakan saat ini, sudah tidak ada pekerjaan konstruksi pembuatan jalan atau infrastruktur lain yang berpotensi berdampak keruhnya sungai.

"Kegiatan saat ini adalah pengeboran di `Well Pad F`, setelah pengeboran di `Well Pad H` dihentikan.?Secara faktual kekeruhan turun secara signifikan dalam jangka waktu satu hari, tidak berlarut-larut. Saat ini, tim PT SAE terus bekerja menangani ini di bagian hulu terkait proteksi lingkungan namun dikarenakan `flash` hujan yang cukup lebat menyebabkan kekeruhan tersebut," katanya.

Menurut dia, pihaknya sedang mengoptimalisasikan proteksi tambahan agar dapat menghadapi musim hujan yang sudah berlangsung saat ini dengan penanganan lebih baik. 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar