Masyarakat Kudus diminta waspadai penyebaran TBC dan HIV

id masyarakat kudus diminta,waspadai penyebaran,penyakit tbc hiv

Masyarakat Kudus diminta waspadai penyebaran TBC dan HIV

Suasana Pelatihan Peningkatan Kapasitas Advokasi dan Fundraising di Hotel @Hom Kudus, Sabtu (20/10. (FOTO: Dok. Komunitas Peduli TBC-HIV Aisyiyah Kudus)

Kudus (Antaranews Jateng) - Masyarakat di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, diminta mewaspadai penyebaran virus penyakit tuberkulosis (TBC) dan HIV karena temuan kasusnya selama beberapa tahun terakhir semakin meningkat.

"Berdasarkan data yang ada, temuan kasus TBC saat ini bisa mencapai ribuan kasus, sedangkan HIV mencapai ratusan kasus dan puluhan orang di antaranya meninggal dunia," kata Koordinator Komunitas Peduli TBC-HIV Aisyiyah Kudus Teguh Santoso pada acara Pelatihan Peningkatan Kapasitas Advokasi dan Fundraising di Hotel @Hom Kudus, Sabtu.

Dalam rangka mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut, kata dia, digagas pelatihan peningkatan kapasitas advokasi dan fundraising (penggalangan dana).

Kegiatan yang diikuti jaringan aliansi masyarakat Kudus peduli TBC HIV tersebut, digelar selama tiga hari yang berlangsung sejak 18-20 Oktober 2018.

Narasumber yang dihadirkan, yakni dari akademisi dan praktisi yang menjelaskan tentang fundraising dan pemateri yang memberikan materi tentang teknik advokasi dan penganggaran yang bertujuan memberikan pemahaman sehingga organisasi masyarakat sipil dapat "survive" membantu pemerintah dan bermanfaat untuk masyarakat tanpa harus selalu bergantung pada lembaga donor.

Kegiatan tersebut, lanjut dia, juga membahas isu TBC-HIV, di antaranya temuan kasus, hambatan program, masalah di lapangan dan rencana tindak lanjut pasca kegiatan. 

Salah satu peserta pelatihan, Eni Mardiyanti yang juga pegiat HIV/AIDS Kudus mengungkapkan bahwa temuan kasus TBC semua tipe di Kabupaten Kudus dari tahun ke tahun cenderung meningkat.

Pada tahun 2015 tercatat ada 955 kasus, kemudian tahun 2016 ditemukan sebanyak 955 kasus, dan tahun 2017 naik menjadi 1.351 kasus dan triwulan kedua tahun 2018 kasus yang ditemukan sebanyak 767 kasus.

Sementara untuk kasus HIV di Kudus, katanya, dalam kurun waktu 2017 sebanyak 171 kasus, sebanyak 26 orang di antaranya meninggal dunia.

Ia menganggap penyakit TB dan HIV merupakan infeksi opportunistik sehingga orang dengan kekebalan tubuh menurun sangat mudah sekali terinfeksi kuman TBC.

Pada prinsipnya, kata dia, penyakit menular jika semakin banyak dan semakin cepat ditemukan semakin bagus karena segera mendapatkan penanganan sehingga tidak berisiko menularkan kepada orang lain.

Kedua penyakit tersebut, lanjut dia, merupakan penyakit menular yang mematikan yang cara penularannya sangat mudah, terutama TBC menular melalui udara yang bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal status sosial.

Ia mengajak semua lapisan masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, berolahraga dan makan makanan bergizi.

"Biasakan memakai masker, memberikan ventilasi udara dan cahaya di dalam rumah serta selalu waspada terhadap gejala utama batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh dan memperkuat iman, setia terhadap pasangan agar tidak terinfeksi HIV," ujarnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus sebagai leading sektor yang bertanggungjawab akan kesehatan masyarakat Kudus didorong lebih memperhatikan masalah tersebut secara serius dan komprehensif agar ada tindakan promotif, preventif dan kuratif secara masif agar tidak menjadi bom waktu dikemudian hari. 

Sebagai tindak lanjut secara bersama-sama telah bersepakat dalam waktu dekat ini akan membawa persoalan ini kepada Bupati Muhammad Tamzil sehingga diharapkan ada langkah serius sebagai solusi yang bermanfaat bagi Kudus pada umumnya. 
Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar