Kementan ajak petani percepat masa tanam padi

id percepatan tanam

Kementan ajak petani percepat masa tanam padi

Penanggung Jawab Upaya Khusus Kementan Wilayah Banyumas dan Banjarnegara Apri Handono (berkaos hijau) berfoto bersama petani, PPL, dan Babinsa saat kegiatan pengolahan lahan sawah serentak di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jumat (12-10-2018). (Foto: Sumarwoto)

Banyumas (Antaranews Jateng) - Kementerian Pertanian mendorong petani melakukan gerakan percepatan masa tanam padi agar masa panen juga bisa maju, kata Penanggung Jawab Upaya Khusus Kementan Wilayah Banyumas dan Banjarnegara Apri Handono.

"Kami menggerakkan percepatan tanam dengan menggunakan alsintan (alat mesin pertanian). Kegiatan ini dimulai sejak tahun lalu, percepatan tanam pada bulan Oktober sehingga diharapkan bisa panen pada bulan Januari," katanya di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat.

Apri mengatakan hal itu saat memantau pelaksanaan gerakan pengolahan lahan serentak dalam rangka percepatan tanam padi musim tanam pertama 2018/2019.

Dia menyampaikan terima kasih kepada para petani Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dalam menyiapkan air yang digunakan untuk mengairi lahan sawah.

"Hari ini (12/10) airnya bisa masuk (ke persawahan) dengan debit kurang lebih 4 kubik per detik. Kita harapkan 350 hektare sawah di Desa Tinggarjaya siap tanam pada bulan Oktober ini," kata dia yang juga Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Jawa Timur.

Ia mengatakan Kementan menargetkan luas tanam di Kabupaten Banyumas dalam program percepatan masa tanam pada bulan Oktober mencapai 6.000 hektare.

Jika dibandingkan dengan realisasi percepatan tanam pada bulan Oktober 2017 yang mencapai kisaran 4.000 hektare, dia mengaku optimistis target sebesar 6.000 hektare itu dapat tercapai.

Sementara itu, PPL Kecamatan Jatilawang Trisula mengakui jika sebenarnya masa tanam di Desa Tinggarjaya mundur selama beberapa hari dari waktu yang direncanakan karena terkendala oleh pengairan dari Daerah Irigasi Tajum.

"Jadwal pengairan sebenarnya tanggal 1 Oktober. Berhubung ada rehab total dan ada yang longsor, akhirnya mundur sehingga tanggal 11 Oktober baru mengalir. Dengan demikian, hari ini (12/10) kami gerakkan teman-teman petani, operator traktor, UPJA (Usaha Pelayanan Jasa Alsintan) Sri Tani Jaya di Desa Tinggarjaya untuk turun (ke sawah) semuanya," katanya.

Menurut dia, di Desa Tinggarjaya terdapat 22 unit traktor roda dua dan satu unit traktor roda empat untuk mengolah lahan sawah seluas 350 hektare dengan dibantu satu unit traktor roda empat yang akan didatangkan dari Korem 071/Wijayakusuma.

Oleh karena air irigasinya baru mengalir, dia memperkirakan 350 hektare sawah di Desa Tinggarjaya akan terairi secara merata dalam waktu 10 hari lantaran tanahnya sudah terlalu kering akibat kemarau.

"Katakanlah petani sambil membuat persemaian, traktor roda dua dan traktor roda empat turun semua sehingga diharapkan pada tanggal 15 Oktober sudah ada persemaian semua. Dengan demikian, pada akhir bulan Oktober sudah bisa tanam," katanya.

Trisula mengakui jika sistem pengairannya berjalan normal, pihaknya menargetkan ada percepatan tanam seluas 800 hektare pada bulan Oktober.

Oleh karena adanya perbaikan saluran irigasi dan airnya baru mengalir pada tanggal 11 Oktober, dia memperkirakan luas percepatan tanam di Kecamatan Jatilawang pada bulan Oktober sekitar 625 hektare.

"Selain di Desa TInggarjaya, percepatan tanam juga dilaksanakan di Desa Gentawangi, Tunjung, dan Kedungwringin," katanya. 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar