Peng diskors 6 bulan karena pelanggaran anti-korupsi

id peng

Peng diskors 6 bulan karena pelanggaran anti-korupsi

Petenis Tiongkok Peng Shuai meringis kesakitan di atas kursi roda di tengah pertandingan semifinal tunggal putri turnamen tenis AS Terbuka melawan petenis Denmark Caroline Wozniacki di New York, Jumat (5/9). Wozniacki melaju ke final setelah cedera Shuai memaksanya mundur dari pertandingan. (REUTERS/Adam Hunger)

London (Antaranews Jateng) - Mantan juara ganda putri Wimbledon Peng Shuai pada Rabu dijatuhi sanksi skorsing enam bulan dan denda 10 ribu dolar AS karena melanggar nilai-nilai anti-korupsi berupa upaya mengganti pasangan mainnya saat batas waktu pendaftaran sudah lewat.

Petenis China tersebut, yang menjuarai Wimbledon 2013 dan Prancis Terbuka 2014 di nomor ganda putri, terbukti melakukan pemaksaan dan menawarkan sejumlah uang agar partnernya setuju untuk mengundurkan diri saat turnamen Wimbledon 2017.

Meskipun tawaran itu ditolak dan Peng tidak jadi tampil pada Wimbledon 2017, Unit Integritas Tennis (TTU) mengatakan bahwa tindakan Peng sudah merupakan pelanggaran nilai-nilai antikorupsi.

Dalam Tennis Anti-Corruption Program (TACP) disebutkan bahwa tidak bsecara langsung atau tidak langsung, merekayasaan atau mencoba merekayasa sudah hasil atau aspek lainnya di setiap event.

"Keputusan hari ini....yaitu menetapkan enam bulan, dengan penangguhan tiga bulan, serta denda 10 ribu dolar AS, dengan penangguhan lima ribu dolar AS, dengan syarat bahwa tidak ada lagi pelanggaran TACP yang dibuat," kata TTU dalam pernyataannya.

"Sanksi itu berlaku segera, dan berarti pemain tersebut tidak bola berkompetisi atau hadir pada setiap turnamen di bawah otoritas pengurus olahraga," tambah TTU.

Pemain berusia 32 tahun itu pernah mencapai peringkat satu dunia ganda putri pada Februari 2014 dan di tunggal karir terbaiknya adalah peringkat 14 dunia pada Agustus 2011.

Mantan pelatihnya, Bertrand Perret dari Prancis, dijatuhi sanksi tiga bola atas perannya dalam kasus tersebut.
 

 

Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar