UNS ajak guru SD hadapi perubahan sistem pembelajaran

id Uns, tanoto

UNS ajak guru SD hadapi perubahan sistem pembelajaran

Rektor UNS dengan Direktur Tanoto Foundation menandatangani nota kesepahaman mengenai pelatihan dalam menghadapi perubahan sistem pembelajaran (Foto: Aris Wasita)

Solo (Antaranews Jateng) - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengajak para guru sekolah dasar (SD) siap menghadapi perubahan sistem pembelajaran melalui kerja sama dengan Tanoto Foundation.
     
"Perubahan sistem pembelajaran saat ini luar biasa. Dulu pembelajaran berbasis pada kemampuan guru kemudian berubah menjadi berbasis pada siswa. Selanjutnya sekarang ada digitalisasi, ini menuntut suatu perubahan bagaimana mengantisipasi dan melaksanakan adaptasi," kata Rektor UNS Ravik Karsidi di sela penandatanganan nota kesepahaman dengan Tanoto Foundation di Kampus UNS Solo, Kamis.
     
Ia mengatakan kerja sama tersebut dijalin untuk mendampingi para guru bagaimana mengantisipasi perubahan ke depan sesuai fungsinya. 
     
"Khususnya anak-anak SD. Apalagi sekarang anak belum masuk SD saja sudah bisa mengoperasikan HP (ponsel, red). Jadi belajarnya tidak lagi dimulai dari 'Ini Ibu Budi', tetapi dari apa yang ada di HP," katanya.
     
Oleh karena itu, dikatakannya, guru harus disiapkan untuk menghadapi perubahan tersebut. Menurut dia, dari sekitar 400 lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), baru ada 52 di antaranya yang ditugaskan oleh pemerintah menangani pendampingan guru.
     
"Bahkan di luar dari yang dirancang ini, UNS siap mendirikan pusat pembelajaran secara paralel bersama-sama supaya pembelajaran secara kontinuitas," katanya.
     
Ia mengatakan nantinya akan ada beberapa sekolah mitra yang ditunjuk untuk penerapan program tersebut.
     
Pada kesempatan yang sama, Direktur Program Pelita Pendidikan Tanoto Foundation Stuart Weston mengatakan langkah kerja sama tersebut sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan dasar.
     
"Bagaimana kita bisa mengembangkan praktik-praktik terbaik dalam pembelajaran, manajemen, dan kepemimpinan di sekolah mitra. Di sisi lain juga mendukung pemerintah daerah untuk mendiseminasikan praktik yang sudah dikembangkan ke sekolah nonmitra," katanya.
     
Menurut dia, saat ini metode pembelajaran yang banyak ditemui di sekolah-sekolah adalah guru yang cenderung ceramah dan para siswa menyalin apa yang ada di dalam buku.
     
"Kami ingin buat ini menjadi lebih menarik. Dalam hal ini memancing anak untuk memahami dan berpikir sendiri," katanya.
     
Ia mengatakan sejauh ini sudah ada 10 perguruan tinggi yang menjadi mitra Tanoto Foundation untuk penerapan program tersebut.
     
"Pada prinsipnya melalui program ini kami sekaligus ingin mendekatkan perguruan tinggi dengan sekolah," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar