Warga lereng Merapi Boyolali krisis air bersih

id Langka air bersih di Boyolali

Warga lereng Merapi Boyolali krisis air bersih

Seorang warga Desa Sruni sedang mengambil air dari sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di Sungal Nggares Desa Sruni Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, Rabu, (Foto: Bambang Dwi Marwoto)

Boyolali (Antaranews Jateng) - Warga lereng Gunung Merapi di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sejak awal Juli lalu mengalami krisis air bersih akibat datangnya musim kemarau.

Warga Desa Sruni yang mampu dapat membeli air bersih dari tangki isi 5.000 liter seharga Rp120 ribu hingga Rp130 ribu, sedangkan mereka yang tidak mampu harus mengambil air layak konsumsi ke Sungai Nggares berjarak sekitar 2 kilometer dari permukiman warga.

Sri Murah (35), warga Dukuh Banjarsari Desa Sruni, mengatakan dirinya bersama lima anggota keluarga setiap hari harus mengambil air untuk kebutuhan memasak dan minum, rata-rata dua kali dengan jeriken isi 40 liter.

Menurut Sri Murah, di Sruni ada satu-satunya sumber air di dasar Kali Nggares, sebuah belik (sumbr air) yang tidak pernah kering. Namun, volume air pada musik kemarau saat ini hanya sedikit sehingga tidak mampu mememuhi kebutuhan warga.

"Warga sekarang sudah banyak memiliki bak untuk menampung air sehingga mereka yang ada uang bisa membeli air bersih untuk stok kebutuhan sehari-hari," kata Sri Murah.

Menurut dia, jika mengambil air ke Kali Nggares cukup jauh, jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumahnya dan harus menuruni tebing cukup curam. "Akan tetapi, bagaimana lagi. Ini untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum saja," katanya.

Sarjono (36) warga RT 07 RW 05 Magersari Desa Sruni mengatakan rumahnya cukup jauh dari sumber air Kali Nggares yang sekarang mengeluarkan airnya sedikit sehingga untuk kebutuhan air harus membeli air tangki dengan harga Rp130 ribu sekali kirim.

"Air itu untuk kebutuhan sehari-hari dan minum ternak sapi," kata Sarjono yang memiliki empat sapi.

Menurut dia, air satu tangki isi 5.000 liter tersebut dapat bertahan hingga satu minggu. Jika air hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja bisa satu bulan per tangki.

"Warga memang pernah mencoba membuat sumur dalam untuk mengatasi kekeringan di Sruni, tetapi ketika itu gagal, tidak keluar airnya. Padahal kedalamannya sudah lebih dari 50 meter," katanya.

Bahkan, warga lain di desa yang sama, Supar (42) yang memiliki enam sapi dapat menghabiskan air enam tangki selama tiga minggu. Air justru kebanyakan untuk kebutuhan ternaknya.

Camat Musuk Dwi Sundarto mengatakan 15 dari 20 desa di wilayahnya dipetakan daerah rawan bencana kekeringan pada setiap musim kemarau tiba. Biasanya puncak kemarua mulai Agustus hingga September medatang.

"Agustus biasanya intensitas warga membutuhkan air bersih mulai tinggi. Mereka dapat mengajukan bantuan air bersih melalui kecamatan," kata Dwi didampingi Dariyatun staf bagian Kesra.

Menurut dia, daerah yang rawan kekurangan air bersih di Kecamatan Musuk antara lain, Desa Sruni, Mriyan, Sangup, Lanjaran, Karangkendel, Keposong, Pager Jurang, Cluntang, Karanganyar, Musur, Jenowo, Grigan Lampar, dan Sukorejo.

Namun, warga yang sudah mengajukan bantuan air bersih ke kecamatan baru Desa Jenowo. Biasanya setiap droping air bersih dengan tangki diberikan kepada warga satu RT atau RW.

Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar