Kejaksaan Pati Bedah Rumah Tidak Layak Huni

id kejaksaan tinggi jateng,apresiasi, program bedah rumah,yang digagas kejari,kejaksaan negeri pati,gagas,bedah rumah

Kejaksaan Pati Bedah Rumah Tidak Layak Huni

PATI - Kepala Kejaksaan Tinggi Jateng Sadiman bersama istri dengan didampingi Kepala Kejari Pati Kusnin tengah menggunting pita pada penyerahan kunci rumah warga di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, yang mendapatkan bantuan program bedah rumah dari Kejari Pati, Senin (16/7). (FOTO: Akhmad Nazaruddin Lathif)

     Pati (Antaranews Jateng) - Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah memberikan apreasiasi atas program bedah rumah yang digagas oleh Kejaksaan Negeri Pati, Jateng, pada Peringatan Hari Bhakti Adhyaksa dan Hari Ulang Tahun Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) karena merupakan program bedah rumah yang pertama di jajaran Kejati Jateng.

     "Kami pastikan program bedah rumah yang digagas oleh Kejaksaan Negeri Pati merupakan yang pertama di jajaran Kejati Jateng. Program ini memang murni inovasi dari Kepala Kejaksaan Negeri Pati bersama jajarannya," kata Kepala Kejaksaan Tinggi Jateng Sadiman dengan didampingi Kepala Kejari Pati Kusnin ditemui di sela-sela penyerahan kunci rumah warga di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Senin (16/7).
 
   Dengan adanya program bedah rumah tersebut, kata dia, menjadi bukti bahwa negara hadir di tengah-tengah masyarakat.
 
   Ia menganggap program bedah rumah tersebut tentunya bisa ikut membantu program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.
 
   Ketika program tersebut dilanjutkan secara berkseinambungan dan bersama-sama, dia optimistis, bisa mengurangi rumah tidak layak huni di masyarakat, khususnya di Kabupaten Pati.
 
   Ia menganggap program tersebut merupakan salah satu bentuk kegiatan bakti sosial yang memiliki kepedulian terhadap rakyatnya.
 
   Pada kesempatan tersebut, Sadiman juga meminta jajarannya para Kepala Kejari di wilayah Keresidenan Pati yang kebetulan hadir pada acara peresmian dan penyerahan bantuan bedah rumah untuk membantu warga tidak mampu yang memang sangat membutuhkan bantuan.
 
   "Kegiatan kejaksaan tidak hanya tugas pokok dalam penanganan perkara, namun juga ikut hadir mensukseskan program pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya," ujarnya.
 
   Apalagi, kata dia, rumah warga yang tidak layak huni tentunya masih banyak, namun lambat laun ketika semua pihak saling bahu membahu menjalankan program serupa tentunya akan berkurang.

     Ia berharap lima orang keluarga yang mendapatkan bantuan program bedah rumah dari Kejaksaan Negeri Pati bersedia merawatnya sehingga bisa dimanfaatkan dengan maksimal.
 
   Sementara itu, Bupati Pati Haryanto yang ikut hadir juga menyampaikan apresiasinya kepada kejaksaan yang ikut membantu pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan.
 
   "Kami juga memiliki program serupa maupun program lainnya dalam rangka mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Pati," ujarnya.
 
   Hanya saja, lanjut dia, program pengetasan kemiskinan yang dijalankan Pemkab Pati hingga kini memang belum tuntas.

     Program serupa, kata dia, juga dijalankan oleh Polres maupun Kodim Pati sehingga patut mendapatkan apresiasi karena ikut ambil bagian dalam penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Pati.
 
   "Upaya menekan angka kemiskinan tidak hanya menjadi perhatian pemerintah daerah karena sudah menjadi program nasional sehingga dari Pemerintah Pusat hingga provinsi juga memberikan perhatian serupa," ujarnya.
 
   Ia memastikan bahwa angka kemiskinan di Kabupaten Pati saat ini jauh berkurang dan dibandingkan dengan kabupaten tetangga, seperti Kabupaten Blora maupun Rembang masih lebih sedikit.
 
   Kusmanto, salah satu dari lima orang yang mendapatkan bantuan bedah rumah dari Kejari Pati mengaku senang karena rumahnya kini jauh lebih bagus karena dibandung secara permanen oleh Kejari Pati.
 
   "Kini saya bersama istri bisa menempatinya dengan nyaman dan tenang, ketimbang sebelumnya karena rawan bocor saat musim hujan," ujarnya.  
 
   Dengan pekerjaan sehari-harinya sebagai jara urug, dia mengaku, untuk membangun rumahnya menjadi seperti sekarang tentunya tidak mudah karena penghasilan setiap harinya juga tidak menentu. 
Pewarta :
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar