Generasi milenial belajar agama secara instan, akademisi: Ini berbahaya

id unissula,akademisi, halaqah

Generasi milenial belajar agama secara instan, akademisi: Ini berbahaya

Ketua Panitia Halaqah Ulama 5 Universitas Islam Sultan Agung Semarang Agus Irfan (kanan), Wakil Rektor I Unissula Bedjo Santoso Ph.D (tengah), dan Ketua PWI Jawa Tengah Amir Machmud saat konferensi pers penyelenggaraan Halaqah Ulama 5 Unissula, di Semarang, Rabu (4/7). (Foto: Zuhdiar Laeis)

Semarang (Antaranews Jateng) - Kepala Pesantren Mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang Agus Irfan menyebutkan banyak generasi milenial yang ingin belajar agama Islam secara instan.

"Terkadang, mereka tidak mau belajar yang sulit-sulit, maunya simpel, instan. Ini terkadang berbahaya," katanya, di sela Halaqah Ulama 5 Unissula Semarang di Hotel Grasia Semarang, Kamis.

Dengan kecenderungan generasi milenial untuk belajar agama secara instan, Ketua Panitia Halaqah Ulama 5 Unissula itu mengaku tidak kaget banyak pandangan radikal yang masuk ke kalangan kampus.

Kedua, kata dia, rata-rata orang mengartikan bab-bab tertentu dalam persoalan agama secara simplistik atau simpel, seperti hanya belajar makna jihad yang diambil langsung secara tekstual atau apa adanya.

"Tanpa memahami 'asbabun nuzul'-nya, latar belakang turunnya ayat itu, tanpa memahami konteksnya. Tetapi, langsung baca tekstual apa adanya," kata pengajar Fakultas Agama Islam (FAI) Unissula Semarang itu.

Kebanyakan generasi milenial, kata dia, banyak belajar atau mendapatkan informasi tentang agama melalui dunia maya yang terkadang tidak mengetahui bahwa banyak pendapat lain membicarakan persoalan sama.

Pada era digital ini, kata dia, dakwah bisa dilakukan di manapun, terutama ruang-ruang publik di mesia sosial, internet, dan lainnya di dunia maya yang memiliki jangkauan sangat luas.

Menurut dia, dakwah di era sekarang ini tidak lagi terbatas dilakukan di mimbar dakwah sebagaimana biasa, seperti masjid dan majelis, tetapi cukup melalui "gadget" berselancar ke dunia maya.

Agus mengatakan siapa pun dengan "gadget" bisa menjadi seorang da'i atau pendakwah tanpa perlu mementingkan bacaan Alqurannya baik atau buruk, bahkan kapasitas keilmuannya cukup dan mumpuni atau tidak.

Asalkan mampu merangkai kata-kata dengan sedikit kemampuan berbicara, lanjut dia, seolah-olah sudah sah menjadikannya sebagai pendakwah atau orang yang menyampaikan dakwah.

"Ini bisa menjadikan orang salah informasi. Misalnya, paham yang gampang menyalahkan orang, membid'ahkan orang, dan mengkafirkan orang lain. Kalau itu dibaca orang kan sangat berbahaya," katanya.

Itulah yang menjadikan kalangan kampus mengalami degradasi, kata dia, sehingga diperlukan proteksi dari kalangan perguruan tinggi dengan membumikan paham Islam "wasathiyah" atau moderat.

"Kami ada 'push' atau dorongan bagi kalangan perguruan tinggi agar bisa memproteksi dan meninjau paham-paham semacam itu. Bagaimana kemudian paham moderasi Islam bisa dibumikan di tataran kampus," katanya.

Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar