Kendalikan inflasi, ulama diminta turut sosialisasikan belanja bijak

id agus chusaini

Kendalikan inflasi, ulama diminta turut sosialisasikan belanja bijak

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Agus Chusaini. (Foto: Sumarwoto)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - Bank Indonesia berharap ulama turut menyosialisasikan pola belanja cerdas dan bijak kepada masyarakat dalam rangka mendukung upaya pengendalian inflasi, kata Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto Agus Chusaini.

"Pada bulan puasa, biasanya inflasi melaju dengan cepat karena konsumsi masyarakat meningkat. Hal ini dikarenakan bulan puasa dan Lebaran sering identik dengan pengeluaran yang banyak," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

Terkait dengan hal itu, dia mengharapkan ulama dapat ikut serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar berbelanja secara bijaksana dengan tujuan mendukung kestabilan harga dan menyejahterakan masyarakat.

Menurut dia, beberapa aspek yang dapat disampaikan para ulama, di antaranya situasi khas yang terjadi di pasar pada bulan puasa berupa kenaikan harga barang kebutuhan pokok, khususnya pangan.

"Padahal, pada bulan puasa, umat muslim menahan diri untuk berkonsumsi. Waktu makan hanya dua kali, pada saat sahur dan berbuka, sehingga konsumsi mestinya justru menurun," katanya.

Akan tetapi, kondisi yang telah terjadi bertahun-tahun itu, kata dia, menggambarkan peningkatan konsumsi pada bulan puasa dan Lebaran.

"Kondisi ini sebenarnya tidak salah jika memandangnya dari sudut pandang bahwa bulan puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga saatnya memperbanyak ibadah, seperti bersedekah. Tidak mengherankan konsumsi masyarakat secara serentak meningkat pada waktu yang bersamaan," katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa permintaan tersebut harus terkendali agar tidak lonjakan harga yang berlebihan karena adanya kelebihan permintaan dari masyarakat.

Lebih lanjut, Agus mengatakan bahwa pengendalian permintaan dilakukan dengan menanamkan keyakinan pada konsumen dan produsen bahwa pasokan dijamin cukup dan belanja hendaknya dilakukan secara cerdas dan bijak.

"Artinya, berbelanja barang hanya yang benar-benar prioritas sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai dengan keinginan," katanya.

Menurut dia, mendorong konsumen berbelanja cerdas dan bijak diyakini dapat memengaruhi ekspektasi inflasi kedua pihak, dari sisi konsumen dan pedagang.?

Ia mengatakan bahwa konsumen harus rasional karena belanja yang terlalu berlebihan akan memberikan "peluang" bagi pedagang dan rantai distribusinya untuk merespons peningkatan permintaan dengan menaikkan harga.

"Penerapan belanja bijak dan cerdas harus dilakukan secara serentak dan kolektif antarwilayah sehingga tidak ada kesempatan pedagang untuk berspekulasi menaikkan harga. Konsumen harus pandai mencari referensi harga dan berani menawar dengan harga yang dijadikan referensi," katanya.

Selain itu, kata dia, konsumen dan pedagang juga perlu diberikan persuasi untuk tidak menimbun barang.?

Beberapa poin penting tersebut mendasari diperlukannya sosialisasi melalui ulama dan tokoh masyarakat untuk turut memberikan imbauan pada masyarakat untuk bijak dalam berbelanja tidak berlebihan selama bulan puasa dan Lebaran.

"Hal ini secara tidak langsung masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengendalian inflasi," katanya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar