Juliari Batubara menilai isu sara tidak laku di Semarang

id Juliari

Juliari Batubara menilai isu sara tidak laku di Semarang

Semarang - Anggota DPR RI Juliari P Batubara bersama Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setyabudi saat melepas rombongan Karnaval Paskah 2018, di Semarang, Jumat (27/4). (Foto: Zuhdiar Laeis)

Semarang (Antaranews Jateng) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Juliari P Batubara menilai isu intoleransi, seperti suku, agama, ras, antargolongan tidak laku di Semarang.

"Dengan adanya perayaan agama seperti ini, isu-isu seperti itu tidak laku di Semarang," katanya saat pelepasan rombongan "Karnaval Paskah 2018" di Semarang, Jumat.

Karnaval Paskah 2018 di Semarang diikuti ribuan warga dari umat Kristen dan Katolik, kalangan sekolah, gereja, dan komunitas lintas agama sebagai agenda tahunan Kota Semarang.

Diawali pelepasan Karnaval Paskah di kawasan Kota Lama Semarang, rombongan peserta karnaval menuju Balai Kota Semarang, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan mobil hias.

Politikus PDI Perjuangan itu, mengatakan berbagai perayaan agama di Kota Semarang, termasuk Karnaval Paskah itu membuktikan Semarang sebagai kota yang merayakan keberagaman.

"Ini satu bukti bahwa Kota Semarang benar-benar sebagai kota yang tidak hanya mengakui, tetapi juga merayakan keberagaman," kata legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah 1 itu.

Artinya, kata Wakil Bendahara Umum DPP PDI Perjuangan tersebut, Kota Semarang bisa mengakomodasi dan merayakan berbagai macam perayaan agama yang dianut oleh warganya.

Menyikapi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2018 yang sebentar lagi digelar di Jawa Tengah yang dikhawatirkan diwarnai isu intoleransi, Ari, sapaan akrab Juliari, menyatakan tidak terlalu khawatir.

"Warganya (Semarang, red.) dari dulu sampai sekarang sudah terbukti saling menghormati antarpenganut agama satu dengan lainnya," tambah anggota Komisi VI DPR RI tersebut.

Menurut dia, Karnaval Paskah yang sudah kesekian kalinya digelar di Semarang sebenarnya bukan hanya milik warga Semarang yang beragama Kristen dan Katolik, tetapi semua masyarakat.

"Indonesia adalah negara yang beragam yang hanya bisa besar kalau mempertahankan keberagaman itu. Saya berharap kegiatan semacam ini ke depannya dikemas secara lebih baik," katanya.

Apalagi, kata dia, Karnaval Paskah bukan hanya perayaan agama, melainkan juga bisa dikembangkan sebagai potensi wisata yang cukup efektif untuk menarik tingkat kunjungan wisatawan.

"Saya kira bagus juga dalam rangka memperkenalkan kawasan Kota Lama sebagai ikon wisata Kota Semarang. Demikian juga perayaan agama lain yang juga bertempat di Kota Lama," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar