Pengambilan air tanah di Semarang bakal diperketat

id Hendrar Prihadi

Pengambilan air tanah di Semarang bakal diperketat

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (Foto: Mahmudah)

Semarang (Antaranews Jateng) - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menegaskan pengambilan air bawah tanah (ABT) di wilayah itu akan diperketat untuk mengurangi penurunan muka tanah yang terus terjadi.

"Untuk penerapan sebenarnya sudah karena diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 2/2013 tentang Pengelolaan Air Tanah," kata politikus PDI Perjuangan yang akrab disapa Hendi itu, di Semarang, Rabu.

Meski demikian, diakuinya, sampai sekarang ini ABT masih banyak diambil secara bebas oleh masyarakat, terutama kalangan industri, dan pemerintah belum bisa sepenuhnya melakukan penindakan.

Ia mengatakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang sejauh ini belum bisa memenuhi kebutuhan air bersih untuk beberapa wilayah, terutama Semarang Barat, Ngaliyan, dan Tugu.

"Padahal, di Semarang Barat, Ngaliyan, dan Tugu itu kan banyak kawasan industri. Makanya, sekarang ini kami mempersiapkan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Semarang Barat," katanya.

Menurut dia, SPAM Semarang Barat dirancang untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah Semarang Barat, Ngaliyan, hingga Tugu yang mulai dibangun 2019 dan targetnya rampung 2020.

Nantinya, kata dia, jika SPAM Semarang Barat rampung dan sudah beroperasi yang mencukupi kebutuhan air bersih di tiga wilayah itu maka penegakan Perda Pengelolaan Air Tanah akan diperketat.

"Dari rancangannya, SPAM Semarang Barat mampu mengaliri setidaknya 60 ribu kepala keluarga (KK) di tiga kawasan tersebut, termasuk pula untuk mencukupi kebutuhan kalangan industri.

"Targetnya, SPAM Semarang Barat bisa dioperasikan pada 2021. Jika kebutuhan air di tiga wilayah itu terpenuhi lewat PDAM, kami akan bertindak lebih tegas untuk pengambilan ABT, terutama oleh industri," tegasnya.

Dengan dibangunnya SPAM Semarang Barat, kata dia, PDAM Kota Semarang bisa menambah jangkauannya sebesar 20 persen sehingga menjadi 83 persen dari total KK di Semarang yang teraliri air bersih PDAM.

"Kapasitas yang dihasilkan SPAM Semarang Barat diperkirakan mencapai 1.000 liter/detik. Nantinya, ada alokasi 20 persen untuk kalangan industri," kata orang nomor satu di Kota Semarang itu.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang M Farchan mengakui selama ini belum bisa memenuhi kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah karena kendala penyediaaan bahan baku.

"Akibatnya, eksploitasi ABT masih terus terjadi. Sebagian besar dari kalangan perhotelan dan industri. Kami juga tidak bisa melarang masyarakat membuat sumur sendiri," katanya.

Akan tetapi, kata dia, dengan adanya SPAM Semarang Barat nantinya akan menjadi tambahan penyediaan air baku bagi PDAM Semarang yang diharapkan bisa menghentikan eksploitasi ABT.

"Saat ini, Raperda SPAM Semarang Barat kan masih dalam proses pembahasan di DPRD Kota Semarang. Di dalamnya, juga berisi larangan pengambilan ABT melalui sumur-sumur, dan lainnya," katanya.

Diakuinya, eksploitasi ABT merupakan salah satu penyebab semakin parahnya penurunan muka tanah di Kota Semarang yang kemudian berdampak terhadap terjadinya rob dan banjir.

"Rob terjadi kan karena ada penurunan muka tanah. Makanya, dengan penyediaan air baku untuk wilayah Semarang, khususnya bagian Barat, eksploitasi ABT harus dihentikan," katanya.
Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar