Pengrajin batik keluhkan fluktuasi harga bahan pewarna impor

id batik rembang

Pengrajin batik keluhkan fluktuasi harga bahan pewarna impor

Pekerja melakukan proses pelepasan lilin pada kain batik di industri rumahan batik tulis Ningrat, Desa Sumbergirang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Minggu (8/4). Berbagai macam kain batik tulis bermotif Sekar Jagad Laseman itu dipasarkan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Sumatera seharga Rp110.000 hingga Rp10 juta per kain ukuran 240 cm x 115 cm tergantung motif dan jenis kain. (ANTARA FOTO/Aji Styawan/tom/18)

Pati (Antaranews Jateng) - Sejumlah pengrajin batik tulis di Kabupaten Pati dan Rembang, Jawa Tengah, mengeluhkan fluktuasi harga bahan baku pewarna batik karena harus mendatangkan dari luar negeri.

"Hingga kini pengrajin batik tulis masih mengandalkan bahan baku pewarna impor," kata salah seorang pengrajin batik tulis asal Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Tri Widayati di Pati, Jumat.

Sementara bahan baku serupa yang diproduksi di dalam negeri dengan kualitas hampir sama, kata dia, belum tersedia.

Akibatnya, lanjut dia, harga bahan baku tersebut cenderung berfluktuasi karena menyesuaikan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Ketika nilai tukar rupiah turun, kata dia, harga jual komoditas impor tersebut mengalami kenaikan.

Karena daya beli masyarakat terhadap kerajinan batik tulis masih terbatas, lanjut dia, maka harga jual batik hasil produksinya terpaksa tidak dinaikkan.

"Konsekuensinya saya harus menanggung rugi ketika kenaikannya terlalu tinggi, sedangkan ketika kenaikannya hanya sedang keuntungan menjadi turun," ujarnya.

Harga bahan baku pewarna impor, lanjut dia, saat ini mencapai Rp600 ribu untuk jenis warna tertentu. Masing-masing warna harga jualnya juga berbeda-beda.

Terkait penggunaan warna alami, kata dia, sudah mulai menggunakan, meskipun biaya produksinya jauh lebih mahal dan membutuhkan proses yang lebih lama.

Rudi Siswanto, pengrajin batik asal Rembang mengakui hal serupa bahwa harga bahan baku pewarna impor memang berfluktuasi.

Untuk bahan baku kain, kata dia, tidak lagi bergantung pada produk impor karena produk lokal sudah tersedia dengan harga yang cukup stabil.

Meskipun demikian, kata dia, dirinya tidak bisa menghindari lonjakan harga komoditas impor tersebut.

Kalaupun ada kenaikan harga yang terlalu tinggi, kata dia, harga jual produk batik tulis terpaksa dinaikkan dengan melihat daya beli masyarakat.

"Jika dinaikkan terlalu tinggi, tentunya pelanggan bisa pindah ke pengrajin lainnya," ujarnya.

Upaya untuk memasarkan hasil kerajinannya, kata dia, tidak hanya mengandalkan penjualan secara konvensional, melainkan memanfaatkan media sosial serta mencoba membuat aneka kerajinan yang memanfaatkan kain batik.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar