Perikanan budi daya semarang tumbuh 10 persen

id ikan

Perikanan budi daya semarang tumbuh 10 persen

Ilustrasi - Petugas BBI Mungseng Temanggung memasukkan benih ikan nila ke dalam plastik. (Foto: Heru Suyitno)

Semarang (Antaranews Jateng) - Dinas Perikanan Kota Semarang optimistis sektor perikanan budi daya di wilayah tersebut mampu tumbuh 10 persen setiap tahunnya dengan berbagai potensi yang dimiliki.

"Kami mencatat setidaknya ada 856 pembudi daya ikan air tawar di Semarang. Lokasinya tersebar di berbagai wilayah," kata Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang I Gusti Made Agung di Semarang, Kamis.

Dari jumlah pembudi daya ikan air tawar sebanyak itu, kata dia, 40 persennya berada di wilayah Gunungpati, sementara sisanya menyebar di berbagai wilayah, seperti Mijen, Tembalang, dan Pedurungan.

Ia menjelaskan jenis ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan di Semarang adalah nila dan lele, sementara jenis lainnya kurang diminati untuk dibudidayakan karena kurangnya permintaan pasar.

"Seperti patin, sidat, dan sebagainya. Namun, kurang familier di kalangan pembudi daya sini. Permintaan pasarnya juga tidak sebanyak nila dan lele sehingga mereka tidak berani berspekulasi dengan pasar," katanya.

Menurut dia, studi bandeng juga pernah dilakukan di Jawa Timur dan Jawa Barat untuk budi daya ikan sidat, tetapi permintaan pasar di Semarang dan sekitarnya yang kurang membuat tidak banyak dilirik untuk dibudidayakan.

Untuk perikanan air payau, kata dia, terdapat 701 pembudi daya di Semarang yang berada di sepanjang kawasan pesisir, mulai Tugu, Mangunharjo, Mangkang dengan komoditas ikan yang terbanyak adalah bandeng.

"Udang tidak terlalu banyak dibudidayakan karena salinitas airnya kurang sesuai dengan kondisi di sini. Jadi, kebanyakan pembudi daya ikan air payau, ya, memilih bandeng untuk dibudidayakan," katanya.

Ia menyebutkan produksi budi daya ikan air tawar dan payau mencapai 3.200 ton/tahun yang sebenarnya lebih tinggi ketimbang sektor perikanan tangkap yang produksinya hanya mencapai 2.392 ton/tahun.

"Dari sini, kemudian ditangkap oleh sektor pengolahan ikan, baik perikanan tangkap maupun budi daya. Jumlahnya ada 600 pengolah ikan dengan produksi yang mencapai 16.427 ton/tahun," kata Made.

Diakuinya, produksi perikanan tangkap dan budi daya di Semarang memang masih kurang untuk memenuhi kebutuhan pengolahan ikan di wilayah itu sehingga sisanya diambilkan dari produksi daerah-daerah lain.

"Di Semarang kan ada Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong. Sirkulasi transaksi ikan di situ sampai 150 ton/malam dengan suplai ikan dari Jatim, Rembang, Pati, Batang, Pekalongan, dan Semarang," katanya.

Dari transaksi penjualan ikan di Pasar Kobong yang mencapai 150 ton/malam, kata dia, sektor perikanan tangkap maupun budi daya di Semarang baru mampu menyumbang 25 persennya sehingga terus dioptimalkan.

"Makanya, kami optimistis sektor perikanan budi daya akan terus tumbuh 10 persen tahun depan. Apalagi, Semarang yang menjadi pasarnya. Ini peluang untuk meningkatkan produksi perikanan budi daya," katanya.
Pewarta :
Editor: Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar