Makna di balik nomor urut peserta pilkada

id pengundian calon, pilgub jateng

Makna di balik nomor urut peserta pilkada

Dua pasang calon gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo/Taj Yasin Maimoen (nomor 1) dan Sudirman Said/Ida Fauziyah (nomor 2), menunjukkan nomor urut pasangan calon. (Foto:Wisnu Adhi N.)

Semarang (Antaranews Jateng) - Bagi sejumlah kontestan pemilihan kepala daerah, nomor urut tampaknya tidak sekadar angka sebagai tanda atau lambang bilangan.

Sejumlah peserta pilkada di antara 496 pasangan calon yang memenuhi syarat (vide infopemilu.kpu.go.id/pilkada2018/paslon/tahapPenetapan) memaknai nomor urut beraneka ragam.

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kudus H. Muhammad Tamzil dan H.M. Hartopo, misalnya, beranggapan nomor urut 5 memiliki makna tersendiri dalam hal mencapai hasil. Hal ini, kata Tamzil di Kudus, Selasa (13-2-2018), berdasarkan cerita dari pasangannya.

Angka tersebut sama dengan nomor urutnya ketika menjadi peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2008. Pasangan nomor urut 5 Muhammad Tamzil/H. Abdul Rozaq Rais meraih 1.591.243 suara atau 11,36 persen.

Pada kenyataannya, pasangan calon nomor urut 4 H. Bibit Waluyo/Hj. Rustriningsih yang memenangi Pilgub Jateng 2008 dengan meraih 6.084.261 suara (43,44 persen). Urutan berikutnya, pasangan calon nomor urut 1 H. Bambang Sadono/H. Muhammad Adnan meraih 3.192.093 suara (22,79 persen), pasangan calon nomor urut 3 H. Sukawi Sutarip/H. Sudharto sebanyak 2.182.102 suara (15,58 persen), dan pasangan calon nomor urut 2 H. Agus Soeyitno/H. Abdul Kholiq Arif sebanyak 957.343 suara (6,83 persen).

Begitu pula, ketika Tamzil mendapat nomor urut 1 pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kudus 2013, dia yang berpasangan dengan Asyrofi tidak mampu mengalahkan pasangan nomor urut 4 Musthofa (petahana)/Abdul Hamid yang meraih 220.448 suara (48,33 persen) dari jumlah suara sah sebanyak 456.204 suara.

Berdasarkan hasil rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kudus 2013, pasangan Tamzil/Asyrofi meraih 143.678 suara (31,49 persen), Badri Hutomo/Sofiyan Hadi sebanyak 47.514 suara (10,42 persen), Budiyono/Sakiran sebanyak 32.714 suara (7,17 persen), dan pasangan Erdi Nurkito/Anang Fahmi sebanyak 11.810 suara (2,59 persen).

Nomor urut ini tampaknya tidak menentukan kemenangan atau kekalahan kontestan dalam pilkada serentak. Semua bergantung pada masyarakat Kudus yang akan mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih satu di antara lima pasangan calon yang memperebutkan kursi bupati dan bupati setempat pada tanggal 27 Juni 2018.

Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kudus 2018 diikuti lima pasang calon, yakni Masan/Noor Yasin dengan partai pengusung yakni Demokrat, PAN, Golkar, dan PDIP; H. Nor Hartoyo/Junaidi (perseorangan); Hj. Sri Hartini/H. Setia Budi Wibowo (partai pengusung: PBB, PKS, dan Gerindra); H. Akhwan/H. Hadi Sucipto (perseorangan), dan H. Muhammad Tamzil/H.M. Hartopo (partai pengusung: Hanura, PPP, dan PKB).

Sementara itu, Ida Fauziyah (Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah) beranggapan angka 2 menjadi nomor keberuntungan bagi dirinya. Hal ini dikatakan usai pengundian nomor urut di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Selasa (13-2-2018).

Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said mengaku mendapat firasat akan mendapat nomor urut 2 pada pengundian nomor urut peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2018.

Ia mengatakan bahwa nomor 2 itu adalah kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua Pancasila) sehingga hal ini merupakan tugas kemanusiaan untuk membuat masyarakat Jateng menjadi lebih adil dan beradab.

"Nomor 2 juga berarti `victory` atau kemenangan," kata Sudirman Said, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia pada Kabinet Kerja.

Apakah angka ini bakal mengantarkan pasangan yang diusung PKB, PKS, PAN, dan Gerindra ke kursi gubernur dan wakil gubernur atau tidak? Semua bergantung pada masyarakat Jawa Tengah yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Apalagi, H. Ganjar Pranowo pada Pilgub Jateng 2013 meraih 6.962.417 (48,82).

Dengan jumlah suara itu, pasangan calon nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko memenangi pilkada kala itu sekaligus mengalahkan petahana (pasangan nomor urut 2 Bibit Waluyo/Sudijono Sastroatmodjo) yang meraih 4.314.813 suara (30,26 persen) dan pasangan nomor urut 1 Hadi Prabowo/Don Murdono yang meraih 2.982.715 suara (20,92).

Padahal, pada pilkada 5 tahun silam, PDIP tanpa berkoalisi ketika mengusung pasangan Ganjar/Heru. Pada tahun ini, Ganjar yang berpasangan dengan H. Taj Yasin diusung lebih dari satu parpol, yakni Nasdem, Demokrat, PPP, dan PDIP. Bahkan, Partai Golkar sebagai partai pendukung pasangan ini.

Sekali lagi, semua bergantung pada rakyat Jateng apakah pasangan dengan nomor urut 1 pada Pilgub Jateng 2018 bakal meraih suara terbanyak atau malah sebaliknya.

Pertarungan Antarpetahana

Pada tahun ini, sebanyak 171 daerah (17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota) bakal menggelar pilkada serentak, termasuk enam kabupaten dan satu kota di Jawa Tengah. Bahkan, sejumlah daerah terdapat petahana. Misalnya, di Kabupaten Magelang, dua calon bupati namanya sama: Zaenal Arifin bakal berhadap-hadapan dalam pilkada.

Untuk membedakan mereka, selain gelar kesarjanaan, juga nomor urut peserta pilkada. Pasangan calon nomor urut 1 Zaenal Arifin, S.I.P. (bupati) dan Edi Cahyana, S.E. dengan partai pengusung: PPP, Demokrat, PAN, PDIP, dan PKB. Pasangan calon nomor urut 2 H.M. Zaenal Arifin, S.H. (wakil bupati) dan H. Rohadi Pratoto, S.H., M.Si. (partai pengusung: PKS, Gerindra, dan Golkar).

Petahana di Kabupaten Karanganyar juga memperebutkan dukungan masyarakat setempat untuk meraih kursi bupati. Namun, Rohadi Widodo (wakil bupati) yang berpasangan dengan Ida Retno Wahyuningsih mendapat nomor urut 1. Pasangan ini diusung Partai Gerindra dan PKS. Sementara itu, pasangan H. Juliyatmono (bupati) dan H. Rober Christanto yang diusung PPP, Hanura, PAN, Gerindra, PKB, Demokrat, Golkar, dan PDIP bernomor urut 2.

Bupati dan wakil bupati di Temanggung juga ikut meramaikan pilkada setempat. Pada pilkada di kabupaten ini terdapat dua petahana dari tiga peserta, yakni pasangan calon nomor urut 1 H.M. Bambang Sukarno (bupati) dan Matoha (partai pengusung: PKB dan PDIP) dan pasangan calon nomor urut 2 Haryo Dewandono dan Irawan Prasetyadi (wakil bupati) yang diusung Partai Hanura, Partai Demokrat, dan Partai NasDem.

Peserta lainnya dengan nomor urut 3 adalah pasangan H.M. Al Khadziq dan Heri Ibnu Wibowo dengan partai pengusung: Golkar, Gerindra, PAN, dan PPP.

Pilkada di Banyumas, juga diikuti petahana. Achmad Husein (bupati) berpasangan dengan H. Sadewo Tri Lastiono. Pasangan calon nomor urut 2 ini diusung Partai NasDem, PDIP, dan Partai Demokrat bakal melawan pasangan calon nomor urut 1 H. Mardjoko dan H. Ifan Haryanto (partai pengusung: PPP, PAN, PKS, Gerindra, PKB, dan Golkar).

Begitu pula, di Kota Tegal. Petahana dengan nomor urut 1 H.M. Nursholeh (wali kota) dan H. Wartono dengan partai pengusung: Hanura dan Golkar turut mewarnai pilkada setempat bersama empat kontestan lainnya.

Empat peserta pilkada lainnya berdasarkan nomor urut, yakni pasangan A. Ghautsun/H. Muslih Dahlan D.R. (perseorangan); H. Dedy Yon Supriyono/Muhamad Jumadi (partai pengusung: Gerindra, PAN, PPP, PKS, dan Demokrat); K.H. Habib Ali Zaenal Abidin/Tanty Prasetyo Ningrum (partai pengusung: NasDem dan PKB); Herujito/Sugono yang diusung PDIP.

Beda dengan daerah lainnya, pilkada di Kabupaten Tegal petahana berpasangan untuk meraih kembali kursi bupati dan wakil bupati. Pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tegal, pasangan Enthus Susmono (bupati) dan Hj. Umi Azizah (wakil bupati) yang diusung PKB bernomor urut 3.

Dua pasangan calon lainnya, yakni pasangan calon nomor urut 1 H. Rusbandi/H. Fatchuddin (partai pengusung: Golkar dan PPP) dan pasangan calon nomor urut 2 H. Haron Bagas Prakosa/H. Drajat Adi Prayitno dengan partai pengusung: NasDem, Demokrat, dan PDIP.

Apakah nomor urut para kontestan pilkada serentak pada tahun 2018 membawa keberuntungan bagi mereka atau tidak? Jawabannya pada hari-H pencoblosan, 27 Juni mendatang.

Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar