Petani Kudus diminta kembalikan alat pertanian yang tidak dipakai

id alsintan,kudus

Petani Kudus diminta kembalikan alat pertanian yang tidak dipakai

Seorang petani di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, didampingi perwakilan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kudus tengah berfoto di depan mesin pompa diameter 6 inchi yang dipinjam dari Brigade Alsintan. (Foto: Akhmad Nazaruddin Lathief)

Kudus (Antaranews Jateng) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengimbau gabungan kelompok tani atau kelompok tani yang mendapatkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) namun kemanfaatannya kurang untuk mengembalikannya.

"Alat mesin pertanian yang hendak dikembalikan bukan karena pernah dipakai kemudian rusak, melainkan benar-benar tidak memberikan manfaat karena berbagai faktor," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus Catur Sulistiyanto di Kudus, Jumat.

Ia mencontohkan bantuan alat pemanen tanaman padi atau combine harvester ada berbagai ukuran, jika ada yang menerima alat tersebut namun tidak sesuai struktur tanah setempat sehingga tidak bisa dimanfaatkan, tentu bisa dikembalikan.

Dinas Pertanian, kata dia, akan menawarkan kepada petani di daerah lain yang memungkinkan alat tersebut bisa dioperasikan, sehingga memberikan manfaat.

"Kalaupun tidak bisa dimanfaatkan untuk petani di daerah lain, tentunya akan kami sampaikan kepada Pemerintah Pusat," ujarnya.

Jika ada penarikan dari Pemerintah Pusat, kata dia, petani tentu akan diupayakan untuk diusulkan mendapatkan bantuan alat serupa dengan spesifikasi yang berbeda agar bisa dimanfaatkan.

Hingga kini, lanjut dia, sudah ada tiga alsintan yang dikembalikan gapoktan karena tidak memberikan manfaat.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani Mulyo Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, Rohman mengakui, mesin pemanen tanaman padi atau combine harvester bantuan yang diterima pada 2015 dari pemerintah memang tidak terpakai.

"Ketika digunakan untuk memanen, rodanya sering terperosok ke dalam lumpur dan sulit berjalan," ujarnya.

Potensi kehilangan hasil panenan, kata dia, juga terlalu besar, sehingga tidak memberikan manfaat bagi petani.

Karena bantuan, kata dia, petani mencoba melakukan modifikasi dengan harapan bisa dimanfaatkan, ternyata hasilnya masih sama.

Ia berharap, mesin pemanen modern tersebut bisa dikembalikan dengan catatan Gapoktan Tani Mulyo juga bisa diupayakan mendapatkan bantuan alat dengan spesifikasi yang berbeda.

Mesin pemanen yang bisa digunakan untuk karakter tanah di Desa Undaan Lor, katanya, minimal jenis combine harvester D30 karena banyak petani yang menyewa menggunakan mesin pemanen jenis tersebut.

"Lebih besar juga lebih bagus karena tidak mudah terperosok lumpur saat digunakan untuk memanen padi," ujarnya.

Bantuan lain yang tidak dimanfaatkan secara maksimal, yakni mesin penanam padi (rice transpalnater) karena usia bibit yang terlalu muda ditanam rentan rusak karena diserang hama dan banjir.

Sebetulnya, kata dia, keberadaan alat pertanian modern memang dibutuhkan petani, terutama mesin pemanen menyusul mahalnya biaya panen secara manual dan lama.

"Tenaga kerja untuk panen juga sulit diperoleh sehingga panen sering kali tidak sesuai jadwal dan bisa berdampak pada kualitas hasil panennya," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar