Puluhan hektare tanaman padi di Banyumas roboh

id tanaman padi roboh,tinggarjaya banyumas

Puluhan hektare tanaman padi di Banyumas roboh

Hamparan tanaman padi siap panen yang roboh akibat angin langkisau atau puting beliung di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jumat (12/1/2018). Angin langkisau itu terjadi pada Kamis (11/1/2018) sore saat hujan lebat mengguyur wilayah itu. (Foto: Sumarwoto)

Banyumas (Antaranews Jateng) - Puluhan hektare tanaman padi siap panen di Desa Tinggarjaya, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, roboh akibat diterjang angin langkisau (puting beliung), kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyumas Widarso.

"Dari `demplot (demonstration plot) area` kami yang seluas 80 hektare, ada sekitar 25 hektare yang roboh," katanya usai meninjau tanaman padi siap panen yang roboh di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jumat.

Karena usia tanaman padi tersebut sudah tua atau siap panen, dia memperkirakan potensi kerugian mencapai 25 persen.

Dalam hal ini, kata dia, jika rata-rata produksi dalam kondisi normal sekitar 9 ton per hektare, hasil panen yang dapat dinikmati petani berkisar 6,75 s.d. 7 ton per hektare atau lebih.

"Namun, untuk ukuran rata-rata Kabupaten Banyumas, hasil panen sebanyak 7 ton per hektare masih cukup bagus. Selain itu, kejadian tersebut tidak menimbulkan puso karena sebagian besar bulirnya sudah berisi, hanya mungkin tidak maksimal saja," katanya.

Terkait dengan tanaman padi yang roboh, dia mengatakan bahwa petani segera memanen jika sudah memungkinkan.

Sementara untuk tanaman padi yang belum memungkinkan dipanen, kata dia, selama tidak terendam air, akan ditunggu karena pematangan bulir padinya masih dapat berjalan.

"Sebenarnya tanaman padi yang roboh itu akan dipanen sekitar 1 s.d. 2 minggu lagi, kami masih akan tunggu. Kalau yang sudah memungkinkan akan segera dipanen," katanya.

Menyinggung soal potensi panen di Banyumas pada bulan Januari 2018, Widarso mengatakan bahwa berdasarkan data luas tambah tanam pada bulan Oktober 2017 ada sekitar 7.000 hektare.

Kendati demikian, sebagian besar tanaman padi tersebut akan dipanen pada akhir bulan Januari.

"Kalau seperti yang di Tinggarjaya ini (panen pertengahan bulan Januari, red.) tidak banyak. Sebenarnya kami ingin memberi contoh bagi petani di Daerah Irigasi Tajum untuk mengikuti jejak petani di Desa Tinggarjaya," katanya.

Jika petani bisa panen pada saat ini, menurut dia, akan bisa menikmati harga gabah yang bagus sehingga menguntungkan.

Oleh karena itu, dia mengharapkan petani di Desa Tinggarjaya dapat tetap tanam mendahului petani daerah lain agar bisa menikmati harga gabah yang bagus saat panen.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar