MPIG Dorong Petani Temanggung Hasilkan Kopi Biji

id mpig,dorong petani,hasilkan kopi biji

MPIG Dorong Petani Temanggung Hasilkan Kopi Biji

Kopi biji (Foto Antaranews.com) (Foto Antaranews.com)

Temanggung, ANTARA JATENG - Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Java Sindoro-Sumbing Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mendorong petani setempat menghasilkan kopi biji, bukan hanya menjual dalam bentuk kopi gelondong (bulat) yang selama ini dilakukan di wilayah itu.

"Kami berharap petani mengolah kopi hingga menghasilkan kopi biji sehingga memiliki nilai tambah," kata Ketua MPIG Kopi Java Sindoro-Sumbing Tuhar di Temanggung, Senin.

Kawasan lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di Kabupaten Temanggung selain menghasilkan tembakau juga merupakan penghasil kopi arabika.

Tuhar mengatakan dengan menghasilkan kopi biji maka nilai jualnya bisa mencapai Rp90 ribu per kilogram untuk kualitas bagus, sedangkan kopi gelondong hanya dihargai Rp10.000 per kilogram.

"Jika petani bisa menghasilkan kopi biji maka akan mendapatkan penghasilan lebih besar dari pada hanya menjual dalam bentuk kopi gelondong yang masih ada kulitnya," katanya.

Ia mengatakan untuk mewujudkan hal tersebut pihaknya siap memberikan pendampingan atau pelatihan kepada kelompok tani tentang pengolahan kopi yang benar sesuai standar.

Ia menuturkan kawasan lerang Sindoro dan Sumbing berpotensi untuk pengembangan kopi arabika karena posisi lahan berada pada ketinggian 1.500-1.800 meter di atas permukaan laut.

Ia menyampaikan ciri khas kopi arabika yang dihasilkan petani Sindoro-Sumbing adalah beraroma tembakau, karena tanaman kopi bersanding dengan tanaman tembakau.

"Citarasa seperti itu sudah terkenal, bahwa kopi Sindoro Sumbing itu ada aroma tembakaunya," katanya.

Ia mengatakan sertifikat indikasi geografis menerangkan produk daerah asal, bahwa kopi arabika dari wilayah Sindoro-Sumbing memiliki ciri khas aroma tembakau, maka ke depan tidak bisa monokultur kopi saja karena akan menghilangkan ciri khas tersebut.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar