Logo Header Antaranews Jateng

Keranjang Bambu Berajut Batik Khas Cilacap Tembus Pasar Ekspor

Senin, 27 Maret 2017 16:40 WIB
Image Print
Seorang pengunjung pameran melihat kerajinan tangan buatan Euis Rohaini (berkacamata), salah satunya keranjang bambu dengan hiasan rajutan kain batik yang telah menembus pasar ekspor. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Sumarwoto)

Banyumas, ANTARA JATENG - Kerajinan tangan khas Cilacap, Jawa Tengah, berupa keranjang bambu berhiaskan rajutan kain batik menembus pasar ekspor dengan tujuan Arab Saudi, kata Direktur "Raja Serayu" Euis Rohaini.

"Kami baru melakukan ekspor perdana sebanyak satu kontainer pada tanggal 20 Maret 2017. Selepas ini, kami ada kontrak sebanyak enam kontainer dan pengirimannya dilakukan setiap dua bulan sekali," katanya saat ditemui sedang mengikuti pameran di lokasi Musyawarah Rencana Pembangunan Wilayah (Musrenbangwil) eks-Keresidenan Banyumas, Pendopo Duplikat Si Panji, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Senin.

Kendati berawal dari industri batik khas Maos dengan nama Rajasa Mas, dia mengatakan kerajinan tangan yang diekspor itu bukan kain batik, melainkan keranjang bambu dengan hiasan kain batik yang dirajut.

Dia menjelaskan ide pembuatan kerajinan tangan tersebut muncul pada 2016 yang ditindaklanjuti dengan mengikuti sebuah pameran internasional hingga akhirnya mendapatkan impotir dari Riyadh, Arab Saudi.

"Kemudian saya iseng masukkan ke Ambiente. Akhirnya saya lolos di `new talents`, menjadi salah satu dari 12 produk yang benar-benar baru di dunia," katanya.

Bahkan, dia pun mendapatkan sertifikat semacam hak atas kekayaan intektual (HAKI) karena menciptakan kerajinan tangan tersebut.

Pihaknya bisa menuntut jika ada negara lain yang membuat keranjang bambu dengan hiasan rajutan kain batik.

"Saya bisa menuntut karena hak patennya ada di saya," katanya.

Euis mengaku mendapat kesempatan kembali dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mengikuti seleksi pameran di Milano, Italia, dan ternyata lolos.

Oleh karena itu, dia akan berangkat ke Milano pada 4 April 2017 dengan membawa kerajinan tangan berupa keranjang bambu tersebut.

Ia mengaku sempat "jatuh" dalam mengelola usaha batik Rajasa Mas khas Maos, Cilacap, hingga akhirnya menemukan usaha baru berupa kerajinan keranjang bambu tersebut dan mendapat penghargaan dari Australia.

"Saya di Australia hampir enam bulan," katanya.

Dalam pembuatan kerajinan keranjang bambu tersebut, pihaknya tetap memberdayakan masyarakat di Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Cilacap, khususnya dalam pembuatan kain batik.

Untuk keranjang, pihaknya bekerja sama dengan perajin kerajinan bambu di Kecamatan Nusawungu.

Dia mengatakan produk perajin berupa kerajinan bambu tersebut sempat ekspor namun ternyata tidak memenuhi kualifikasi dan dikembalikan hingga akhirnya terpuruk.

"Saya bekerja sama. Dia menyediakan kerajinan bambunya, saya yang kombinasikan batiknya, ya bantu-bantu teman sehingga bisa muncul `brand` baru," katanya.

Ia mengatakan kain batik yang digunakan sebagai hiasan merupakan kain batik yang ditolak karena tidak memenuhi kualifikasi.

"Kain batik yang `reject` itu saya potong-potong untuk hiasan," katanya.

Euis mengakui hingga saat ini masih memproduksi batik meskipun hanya untuk memenuhi pasar domestik, khususnya Jakarta.

"Kalaupun ada yang dikirim ke luar negeri, cuma beberapa potong, hanya titip melalui jasa pengiriman. Kalau yang benar-benar ekspor sendiri baru kerajinan keranjang bambu ini," katanya.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026