Kelompok Satu Atap Pameran "Nggege Mongso" di Banyu Bening

id kelompok satu atap pameran nggege mongso di banyu bening

Kelompok Satu Atap Pameran

Pameran seni rupa "Nggege Mongso" oleh Kelompok Satu Atap Yogyakarta di Banyu Bening House of Painting Borobudur Kabupaten Magelang, Kamis (4/8). (Hari Atmoko/dokumen).

Borobudur, Antara Jateng - Kelompok Satu Atap menggelar pameran karya seni rupa berjudul "Nggege Mongso" di Banyu Bening The House of Painting, dekat Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, hingga 31 Agustus 2016.

"Pameran ini mewujudkan kepedulian para perupa terhadap kondisi lingkungan alam, masing-masing seniman merespons tentang keprihatinan terhadap kondisi lingkungan, termasuk budaya," kata pengelola Banyu Bening The House of Painting Borobudur Suitbertus Sarwoko di Borobudur, Kamis.

Sebanyak 19 karya lukis dan tiga patung dipamerkan oleh tujuh perupa Kelompok Satu Atap berbasis di Yogyakarta itu, yakni Andi Hartana, Budiyono Kampret, D.H. Mahardika, Hery Sudiono, Rinto, Suryo, dan Sri Pramono.

Karya-karya mereka, ujar Sarwoko yang juga pelukis Borobudur itu, antara lain bercorak realis, figuratif, dan ekspresionis atau abstrak.

Sejumlah karya mereka, antara lain berjudul "Jangan Disentuh" (Andi Hartana), "Mencairnya Gunung Es" (Suryo), "Merapuh" (Rinto), "Echoing Fiction Friction" (D.H. Mahardika), "Uneventful Night" (Hery Sudiono), "Maling Rogo" (Budiyono Kampret), dan "Hari Tanpa Hujan#1" (Sri Pramono).

"Tema pameran yang 'Nggege Mongso' (Ketergesaan, red.), mendorong semua orang untuk melakukan penanganan terhadap kondisi alam dan lingkungan yang rusak saat ini," ujarnya.

Ia menyebut pameran tersebut sebagai kegiatan ketiga selama 2016 yang diselenggarakan oleh Banyu Bening The House of Painting.

Seorang perupa, Hery Sudiono, mengatakan pameran itu sebagai representasi para perupa yang merupakan bagian dari kontradiksi suatu masyarakat yang kampung dan kota.

"Setiap perupa mencatat keberadaannya yang selalu ditarik oleh dua sudut berlawanan, berdamai, mengakrabi konflik yang terus berlangsung. Setiap goresan dan bentuk adalah proses yang tidak pernah selesai," ujarnya.

Pameran tersebut juga terkait dengan dua peringatan penting, yakni Hari Masyarakat Adat Sedunia (9 Agustus) dan Hari Ozon Internasional (16 September).

"Isu tersebut dikaitkan dengan tema pameran tentang ketergesaan. Keinginan yang harus terlaksana di mana proses menjadi kalah penting di hadapan hasil," katanya.

Ia mengatakan pelaku seni memandang alam dan peradaban dalam dua perspektif, yakni ia mengalami secara personal dan ia membaca serta merefleksikan ide dari masyarakat atau suatu budaya atas alam dan dirinya.
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar