Logo Header Antaranews Jateng

Sering Diperebutkan, Zona Tangkap Dipertanyakan Nelayan Tradisional

Kamis, 26 Mei 2016 16:41 WIB
Image Print
ilustrasi. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Jepara, Antara Jateng - Nelayan yang ada di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mempertanyakan aturan soal zona tangkap nelayan karena area tangkapan nelayan tradisional sering kali diperebutkan oleh nelayan modern sehingga berpotensi konflik.

"Hampir semua nelayan jaring atau tradisional yang ada di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, pernah mengalami konflik dengan nelayan yang menggunakan kapal yang lebih besar dan peralatan yang lebih modern," kata seorang nelayan asal Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Jepara, Zaini di Jepara, Kamis.

Bahkan, kata dia, nelayan tradisional merasa terkalahkan ketika sedang menangkap ikan pada jarak kurang dari empat mil datang kapal nelayan lain yang dilengkapi dengan lampu, sehingga ikan tertentu lebih senang mendekati cahaya lampu tersebut sehingga memudahkan untuk menangkapnya.

Bagi nelayan jaring, kata dia, kondisi tersebut sangat merugikan karena ikan yang seharusnya berpotensi ditangkap, justru mendekati kapal yang dilengkapi lampu penerang tersebut.

Selain itu, kata dia, nelayan tradisional juga tidak bisa melawan ketika baling-baling kapal nelayan modern tersangkut jaring nelayan tradisional langsung dipotong-potong.

Padahal, kata dia, kerusakan sedikit yang terjadi pada jaring nelayan tradisional cukup merugikan karena jaringnya tidak bisa dipakai, sedangkan untuk memperbaikinya juga butuh biaya lagi.

Sukadi, nelayan lainnya menambahkan, bahwa permasalahan serupa juga dialami nelayan tradisional yang melaut pada siang hari sering bersamaan dengan kapal cantrang yang ukuran mata jaringnya jauh lebih kecil, sehingga ikan-ikan kecil dan biota laut lainnya, ikut tertangkap.

Hal itu, kata dia, tentu merugikan nelayan tradisional, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kepunahan.

Ia berharap, pemerintah setempat turun tangan mengatasi permasalah tersebut, karena dikhawatirkan akan terjadi konflik yang berkepanjangan.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026