ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Minggu, 22 Oktober 2017

Ada Klinik TB di Puskesmas Mertoyudan 1

| 442 Views
id puskesmas mertoyudan, klinik tb
Ada Klinik TB di Puskesmas Mertoyudan 1
Seorang paramedis, Kristin Handayani (kanan), memberikan layanan konsultasi kepada pasien di Klinik TB Puskesmas Mertoyudan 1 Kabupaten Magelang, Senin (19/6). (Foto:ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)
Magelang, ANTARA JATENG - Puskesmas Mertoyudan 1 Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, mengembangkan layanan kesehatan kepada masyarakat dengan membuka Klinik TB (Tuberculosis).

"Terutama untuk lima desa yang menjadi wilayah pelayanan kami, akan tetapi juga terbuka untuk umum, masyarakat di luar wilayah kami," kata Kepala Puskesmas Mertoyudan 1 Kabupaten Magelang dr. Oktora Kunta Edhy didampingi petugas paramedis khusus Tuberculosis, E. Kristin Handayani, di Magelang, Senin.

Wilayah jangkauan layanan kesehatan Puskesmas Mertoyudan 1 Kecamatan Mertoyudan meliputi Desa Banyurojo, Mertoyudan, Sumberrejo, Danurejo, dan Donorojo dengan jumlah penduduk 50.252 jiwa.

Ia mengatakan sosialisasi dan penyuluhan penyakit TB terus dilakukan petugas dan kader kesehatan. Klinik TB Puskesmas Mertoyudan 1 sebagai yang pertama dibuka di Kabupaten Magelang yang meliputi 21 kecamatan. Peresmian klinik tersebut pada awal Juni lalu.

Pembukaan klinik tersebut, ujarnya, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat terkait dengan kasus penyakit Tuberculosis. Klinik tersebut, meliputi ruang konsultasi, ruang dahak, dan laboratorium, didukung dokter dan perawat yang telah menjalani pelatihan khusus.

"Setidaknya dalam tiga tahun terakhir capaiannya masih rendah dari target 70 persen, capaiannya hanya 10-20 persen. Penyebabnya bisa saja memang tidak banyak pasien, tidak ditemukan atau belum tertangani, dan kurang sosialisasi," ujarnya.

Pihaknya mencatat sejak awal Juni lalu enam pasien terduga TB memanfaatkan layanan Klinik TB Puskesmas Mertoyudan 1 berkat kinerja para kader TB.

Ia menjelaskan Donorojo sebagai desa percontohan untuk mengoptimalkan layanan penderita TB. Di desa itu telah dibentuk 25 kader TB yang antara lain bertugas menjaring warga dari kemungkinan terduga TB.

Di empat desa lainnya masing-masing dua kader. Para kader TB telah mendapatkan pelatihan khusus agar bisa menemukan penderita TB dan mendorong warga terduga penyakit menular itu bersedia menjalani pengobatan.

"Di Donorojo sebagai percontohan karena ditemukan kasus. Pelayanan pasien TB tidak bisa dicampur dengan pasien umum lainnya sehingga kami berinisiatif membuka Klinik TB," katanya.

Operasional layanan Klinik TB Puskesmas Mertoyudan 1 menggunakan alokasi Bantuan Operasional Kesehatan dan Badan Layanan Umum Daerah, sedangkan pasien bisa menggunakan BPJS Kesehatan, Jamkesda, dan Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) untuk mendapatkan layanan gratis.

Ia menjelaskan penanganan penyakit itu membutuhkan waktu cukup lama atau sekitar enam bulan didukung ketekunan pasien untuk menjalani pengobatan.

Ia juga menjelaskan tentang penanganan pasien TB melalui penelitian dahaknya yang setidaknya butuh waktu 2-3 hari untuk mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium dengan sistem SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu).

Ciri-ciri penderita TB, katanya, antara lain batuk (bercampur darah) sekurang-kurangnya selama dua minggu, berat badan turun, demam tidak terlalu tinggi namun lama, badan lemas, serta berkeringat pada malam hari meskipun tidak beraktivitas berat.

Ia menjelaskan kekurangan nutrisi, lingkungan yang lembab, dan penularan oleh warga penderita TB, menjadi penyebab seseorang terkena penyakit yang dibawa oleh kuman "Myco bacterium tuberculosis" tersebut.

Editor: Mahmudah

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca